Kompilasi Tulisan Dahlan Iskan

April 3, 2009

Mencoba Hotel ‘’Kempinsky'’ Indonesia yang Baru (3-Habis)

Filed under: Uncategorized

Bernostalgia dengan Foto-Foto Hitam Putih Bung Karno

Usai mandi, saya ingin turun ke lobi. Teman saya sudah menunggu di lobi Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini. Begitu keluar kamar, saya kembali terpikir bagaimana bisa membuat koridor ini lebih nyaman. Saya pun menyusuri koridor itu dengan perhatian penuh ke jendela-jendela tipuan yang terbuat dari kaca itu.

Catatan Dahlan Iskan

—–

SAMPAI tiba di lift terdekat, tetap saja tidak keluar ide bagaimana membuat koridor itu terasa lebih lapang.

Saya langsung masuk ke salah satu dari dua lift yang berjajar di situ. Lalu saya pencet tombol "L" yang dugaan saya pasti singkatan dari lobby. Eh, ternyata bukan. Tiba di lantai itu saya tidak mendapatkan lobby. Saya naik kembali ke lantai enam.

Keluar dari lift saya perhatikan tanda-tanda, jangan-jangan saya salah memilih lift. Logika saya mestinya tidak salah. Semua orang, menurut akal sehat, tentu akan selalu mencari lift terdekat. Maka itulah lift terdekat. Jadi, akal saya sebenarnya masih sehat. Apalagi, tidak ada petunjuk sama sekali bahwa penghuni tidak boleh menggunakan lift terdekat itu.

Saya pun mencari-cari lift yang lain. Oh, di sebelahnya ada dua lift lagi yang juga berjajar. Saya pun masuk. Kali ini saya merasa pasti inilah lift yang benar. Ternyata saya salah lagi. Lift ini lift barang yang juga tidak bisa dipakai ke lobi. Sekali lagi saya tidak melihat tanda apa pun bahwa lift itu lift barang, kecuali dinding-dindingnya yang tahan benturan. Apalagi, saya juga baru melihat banyak orang keluar dari lift itu. Logika saya: ini bukan lift barang.

Saya pun naik lagi ke lantai 6. Barulah saya benar di langkah ketiga. Saya gunakan lift yang benar-benar benar. Di lokasi itu ternyata ada enam lift, berjajar dua-dua. Tidak ada petunjuk apa pun mana lift yang ke mana. Setelah bertanya, barulah saya tahu, jajaran lift terdekat tadi adalah lift untuk apartemen. Jajaran lift yang tengah untuk barang. Sedangkan jajaran yang satunya lagi barulah untuk penghuni hotel.

Besok paginya, ketika akan makan pagi, saya tidak salah lagi. Saya sudah bisa memilih lift dengan benar. Bukan karena sudah ada petunjuknya, melainkan karena saya selalu mengingat-ingatnya sejak sebelum tidur. Besok pagi saya tidak boleh salah lagi dalam memilih lift yang mana. Sampai-sampai terbawa ke mimpi. Saya ingat ketika menjadi anggota MPR dulu, pernah diinapkan di Hotel Indonesia. Rasanya waktu itu memang banyak sekali lift di situ. Rupanya lift-lift tersebut masih sama tempatnya, hanya kali ini dibeda-bedakan penggunaannya.

Pagi itu sebenarnya saya mengharapkan bisa makan pagi agak banyak. Maklum, harganya juga Rp 350.000 per orang. Tapi, makanan yang ada sangat standar -untuk ukuran hotel dengan tarif Rp 2,5 juta semalam. Jadi, tidak banyak pilihan. Tidak apa-apa. Toh saya harus segera ke bandara menuju ke Balikpapan. Baik makanan maupun tata ruang coffee shop itu sangat biasa. Kecuali ada beberapa kursi yang ditata di luar ruang sehingga ada pilihan bagi orang yang mau udara bebas atau barangkali mau merokok. Tapi, karena kolam airnya belum selesai, kursi-kursi itu hanya menghadap plester-plester semen di sana-sini.

Oh, ada yang mengesankan. Ada tiga foto besar hitam putih yang menghiasi dinding coffee shop itu. Foto-foto itu pun bisa menimbulkan nostalgia yang jauh. Paling kiri ada foto Bung Karno dengan kegagahan uniform kepresidenannya dan tongkat komandonya. Bung Karno dalam foto itu lagi dalam posisi seperti berbisik kepada gadis cantik berambut pirang. Ya, semua orang tahu: dialah Marilyn Monroe. Bintang film simbol seks yang mati bunuh diri justru ketika masih seksi-seksinya.

Melihat foto itu kesan yang muncul adalah: siapa yang sebenarnya jago seks? Yang berbisik atau yang lagi mendengarkan?

Di bagian tengah barulah foto yang menimbulkan kesan bertemunya dua jagoan dunia: Bung Karno dan Kennedy. Sayangnya, Kennedy mati tertembak tidak lama setelah itu dan presiden AS berikutnya tidak mau meneruskan komitmen Kennedy kepada Indonesia. Jadilah Bung Karno "patah hati" dan berpaling ke Uni Soviet dan memusuhi Amerika. Lalu Amerika memusuhi Bung Karno dan kelak pada 1965 ikut menggulingkannya.

Foto yang paling kanan adalah Bung Karno dengan para penari cilik dari Bali. Tiga-tiganya menimbulkan kesan sendiri-sendiri yang sangat jauh.

Saya sempat berfoto di dekat situ. Itulah, bagi saya, bagian yang paling mengesankan dari hotel baru yang asal usulnya dibangun dengan harta pampasan perang dari Jepang itu.(*)

April 1, 2009

Dahlan Iskan : Mencoba Hotel â? Kempinskiâ?Indonesia yang Baru (2)

Filed under: Uncategorized

Kamar Bersih dan Nyaman, Sayang Sulit Buang Kulit Pisang

Begitu masuk kamar, bau cat masih terasa. Tidak apa-apa. Memang Hotel Kempinski Indonesia ini (d/h Hotel Indonesia) masih belum genap satu bulan. Semuanya masih serba baru.

—–

BEGITU membuka pintu saya langsung terpana oleh lantainya yang kinclong. Seirama dengan hal-hal yang serba kaca di luarnya. Lantai kamar yang terbuat dari kayu itu juga sangat menyenangkan. Di samping nyaman, kesannya juga sangat bersih. Apalagi di sekitar ranjang dilapisi karpet. Saya suka lantai kamar seperti ini. TV-setnya juga sangat besar. Meja dan kursi kerjanya juga simple dan enak. Patung-patung kecil putih yang menjadi hiasan di kamar itu juga cocok sekali.

Tapi adanya dua lampu di samping tempat tidur itu terasa berlebihan. Di sisi kiri ada lampu duduk yang besar sekali, tapi masih juga ada lampu baca yang tangkai besinya terasa amat panjang. Di sisi kanan juga sama. Jadi, ada empat lampu di sisi ranjang. Apalagi lampu duduknya besar sekali. Begitu besarnya lampu duduk itu sampai menutup hiasan grafis (gambar beca susun dua) yang ditempelkan di dinding. Menurut saya lampu baca saja sebenarnya sudah cukup. Meja kecil di samping ranjang itu bisa digunakan untuk menaruh koran, majalah, kacamata atau barang-barang pribadi lainnya yang biasanya harus dilepas sebelum tidur.

Ranjang dan bantalnya sudah cukup enak, meski belum sangat enak seperti yang pernah saya alami di hotel lain dengan tarif yang sama. Sandalnya bagus, alat cukurnya dipilih dari merk yang baik yang cukup tajam (banyak hotel yang alat cukurnya tumpul!), dan jarak antara ranjang dan TV-nya juga ideal.

Penataan kamarnya juga enak, kecuali lampu duduk di sebelah ranjang tadi. Tapi saya kesulitan membuang kulit pisang. Ternyata tidak ada tempat sampah di kamar itu. Padahal ke mana-mana saya selalu membawa pisang kepok, sebagai salah satu pengendali mekanisme pencernaan saya setelah ganti hati hampir dua tahun lalu.

Saya lantas mencoba membuka gordin untuk melihat pemandangan apa yang ada di luar sana. Ternyata sama sekali tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya dinding-dinding dan lantai bangunan lain di komplek itu. Bahkan sebagian lantai yang terlihat dari kamar itu masih belum bersih. Masih berupa semen polos. Mungkin karena bagian ini memang belum disentuh. Maklum masih baru ujicoba.

Kelak saya kira pemandangan di situ akan dibenahi dengan tipuan-tipuan yang bisa menyenangkan. Sebelum itu dilakukan, apa yang terlihat dari kamar justru pemandangan yang "kejam". Maka saya tutup kembali gordin itu dan tidak pernah saya buka lagi sampai saya check out keesokan harinya.

Bagaimana dengan kamar mandinya? Posisi pintu kamar mandi itu cukup enak. Model wastafelnya yang segi panjang itu tidak ada masalah. Cocok saja dengan desain sekelilingnya. Bahwa warna dominan kamar ini (termasuk kamar mandi) adalah coklat, juga tidak masalah.

Toiletnya dipilih toilet paling modern yang pakai elektronik kontrol itu. Tutupnya membuka sendiri, dudukannya selalu hangat dan untuk cuci buang air besar cukup memencet-mencet tombol. Tapi gerakan membukanya kurang cepat. Sehingga bagi yang kebelet sekali, atau yang sakit perut, bisa kececeran. Memang penutupnya bisa dibuka dengan tangan sehingga sebenarnya -kalau kesusu–juga tidak ada masalah. Mungkin karena posisi toilet itu yang menyamping (orang yang akan menggunakannya datang dari arah samping toilet) sehingga sensornya harus menunggu dulu sampai orangnya tiba di arah depannya. Lain kali, kalau posisi toiletnya seperti itu baiknya menggunakan sensor yang bisa "melirik" ke kiri. Dengan demikian, ketika orangnya sudah tiba di sisi kiri toilet, sensornya sudah bisa membaca: lalu tutup toilet itu bisa cepat membuka.

Bak mandi kamar ini sangat besar dan menonjol. Bentuknya oval cembung yang ukurannya benar-benar besar. Saking besarnya sampai-sampai menghalangi pintu masuk ke kamar mandi shower. Akibatnya pintu ke shower ini hanya bisa dibuka separonya saja. Membukanya pun harus hati-hati agar pintunya tidak membentur bak mandi. Di sini terasa seperti ada anjuran lebih baik mandi pakai bak saja. Karena, kalau ke shower agak sulit masuknya. Padahal pemakaian air untuk bak mestinya jauh lebih boros daripada untuk shower. Tapi, mungkin orang memang lebih senang berendam. Tidak seperti saya yang serba kesusu dan karena itu lebih memilih pakai shower.

Meski masuk ke kamar shower di Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini agak sulit, namun ruangan shower itu sendiri cukup longgar. Di dalam kamar shower ini tidak ada masalah. Bahkan showernya ada dua: yang di langit-langit dan yang di dinding. Airnya juga menyemprot dengan kuat.

Shower besar yang di langit-langit itu juga enak. Bentuknya yang besar membuat air rata menyemprot ke seluruh kepala. Menurut penelitian shower seperti ini kabarnya bisa membuat orang yang mandi di situ bisa menggunakan air lebih sedikit.

Anehnya, kamar mandi shower ini tidak dilengkapi tempat sabun. Juga tidak ada sabun cair yang menempel di dinding. Saya agak kaget ketika sudah berada di dalam. Padahal saya sudah terlanjur telanjang. Ketika masuk ke kamar shower ini saya memang sudah melepas baju dengan logika pasti sudah ada sabun atau gel di dalamnya.

Saya hanya membawa sikat gigi yang sudah ada pastanya. Saya memang biasa sikat gigi di kamar mandi, bukan di wastafel. Boleh kan? Setelah saya sikat gigi, saya kebingungan: di mana mau menaruh sikat gigi? Biasanya saya taruh di tempat sabun. Ini tidak ada tempat sama sekali. OK. Sikat gigi saya lempar begitu saja di pojok lantai. Toh sudah tidak akan digunakan lagi. Sehabis mandi baru akan saya buang di tempat sampah.

Lalu saya pun membasahi badan dan rambut. Setelah itu otomatis saya cari-cari di manakah sabunnya? Ternyata tidak ada. Dinding di kamar mandi itu bersih dalam pengertian tidak ada apa-apanya sama sekali. Walhasil saya harus lari ke luar kamar mandi untuk mengambil sabun di wastafel. Kembali ada persoalan. Setelah sabun itu digunakan akan ditaruh di mana? Sekali lagi saya lempar saja di pojok lantainya.

Lantai kamar mandi ini juga agak aneh. Di sekelilingnya ada parit kecil. Lalu di pojoknya ada lubang pembuangan yang tutupnya lepas. Tutup lubang itu juga terbuat dari keramik segi empat. Tidak apa-apa. Yang membuat saya tidak habis pikir mengapa digeletakkan begitu saja. Sekali lagi, barangkali ini memang masih uji coba.

Saya menduga, lantai kamar mandi itu dipasang kurang kurang sempurna sehingga airnya kurang plas menghilang ke lubang. Maka dibikinkanlah parit kecil di sekelilingnya. Semoga dugaan saya itu salah. Tapi apa dong? Bukankah parit keliling itu bisa membuat kesan kebersihan kamar mandi itu terganggu? Tentu semua itu soal kecil. Yang penting tidak ada air menggenang selama kita showeran di situ.

Saya juga selalu menilai handuk di setiap hotel. Enak atau tidak di badan. Di Hotel Kempinski Indonesia ini handuknya cukup enak di badan -meski juga belum seenak di hotel yang sering jadi langganan saya yang harganya setaraf dengan itu. Timbangan badan di kamar itu (juga dari kaca) berfungsi dengan baik. Kaca pembesar di kamar mandi itu juga baik.

Tapi tempat sampah di kamar mandi itu menganggu kenyamanan. Tempat sampah itu tertutup dan letaknya dua langkah dari wastafel. Untuk membuang sampah ke situ kita harus menginjakkan kaki ke ontelan di bagian bawahnya agar tutup tempat sampah itu membuka. Ini menyulitkan bagi orang yang biasa sekali waktu mengerjakan dua pekerjaan. Misalnya saja orang yang setelah bersikat gigi ingin membuang sikat giginya ke tempat sampah sambil mulutnya masih penuh dengan pasta. Masak orang harus melangkah ke tempat sampah itu untuk menginjakkan kaki sambil mulutnya penuh dengan busa pasta. Kalau tempat sampah itu tidak bertutup, orang tinggal melemparkannya saja tanpa harus bergeser dari wastafel.

Dasar penghuni hotel yang pemalas! (bersambung).

Dahlan Iskan: Mencoba Hotel ‘’Kempinski'’ Indonesia yang Baru (1)

Filed under: Uncategorized

SAYA suka mencoba hotel baru. Termasuk ketika Hotel Indonesia dibuka kembali dengan nama baru: Kempinski Indonesia. Namanya saja mencoba, saya siap dengan dua kemungkinan: kekurangan dan kelebihan.

Saya tidak akan komplain kalau saja menemukan kekurangan. Saya sendiri yang sudah mendirikan begitu banyak surat kabar (100 lebih?), juga selalu mengecewakan pembaca setiap kali surat kabar baru itu mulai terbit. Lama-lama kekurangan itu dikoreksi dan akhirnya menjadi baik. Demikian juga ketika kami membuka usaha gedung perkantoran, pabrik kertas, dan PLTU. Di awal-awalnya selalu saja banyak kekurangan.

Kemungkinan kedua, saya akan langsung mengaguminya. Siapa tahu kehebatan hotel ini sama dengan mall Grand Indonesia yang lebih dulu dibuka. Toh hotel ini bukan saja menjadi bagian dari kompleks Grand Indonesia yang megah itu, pemiliknya pun sama: kelompok Djarum. Apalagi ada nama Kempinski di situ. Inilah jaringan hotel dari Jepang yang sudah sangat terkenal reputasinya. Saya juga sudah sering menginap di berbagai Hotel Kempinski di banyak negara. Saya sudah tahu standar dan reputasinya.

Saya sudah beberapa kali ke mall Grand Indonesia sebelum hotel ini dibuka. Biasanya untuk makan di restoran Jepang atau Korea di lantai 5 itu. Sambil makan saya bercita-cita kalau hotelnya sudah dibuka saya akan langsung merasakannya. Ternyata saya terlambat tahu. Hotel itu sudah dibuka pada 1 Maret lalu, tapi saya baru punya kesempatan mencobanya 24 hari kemudian.

Lalu apa yang saya alami ketika menginap di Hotel Indonesia yang baru ini?

Saya memperoleh dua-duanya. Kekurangannya dan kelebihannya.

Meski tempatnya di kompleks Grand Indonesia, hotel ini ternyata tergolong "hotel bisnis". Hanya, hotel bisnis yang mewah. Karena hotel bisnis, jangan mengharapkan lobi yang wah, atau kamar yang besar, atau coffee shop yang grand. Hotel ini menganut konsep minimalis, tapi minimalisnya sebuah hotel bintang lima. Lobinya penuh dengan pilar yang besar-besar. Untuk mencari di mana resepsionisnya saya harus melongok-longok di antara pilar-pilar itu. Oh, di sana: membelakangi taman dengan sekat kaca penuh yang terang benderang.

Bahan kaca memang mendominasi semua hal. Rupanya inilah memang yang menjadi ciri khas baru Hotel Indonesia. Ini juga yang membuat citranya sebagai hotel bisnis sangat menonjol. Pilar-pilarnya, kolom-kolomnya, dinding-dindingnya serba berkaca.

Kelihatannya bahan kaca ini sekaligus untuk mengatasi persoalan "ruang" yang menjadi penghambat utama desainernya. Sebagai hotel lama yang direnovasi, tentu Hotel Indonesia tidak bisa menghindari "warisan" lama itu. Misalnya, pilar-pilar, kolom-kolom dan ukuran kamar yang terkait dengan fondasi asal bangunan itu. Semua harus terikat dengan konstruksi lama yang untuk ukuran sekarang tentu tidak akan memuaskan para perancang. Kolom-kolom besar di lobi itu, misalnya, bagaimana bisa membuangnya? Tidak mungkin. Karena itu, mereka mengatasinya dengan membalutnya dengan kaca-kaca.

Demikian juga kolom rendah di dalam kamar. Yakni, kolom di antara ranjang dan meja kerja. Kolom itu begitu rendahnya sehingga seperti memotong kamar menjadi dua bagian. Tapi, desainer berhasil mengurangi kesan itu dengan cara membungkus kolom tersebut dengan kaca cermin. Dengan demikian kamar itu kesannya masih cukup luas.

Hari itu saya mendapat kamar di lantai 6, agak di ujung lorong. Dan, memang kelihatannya baru dua lantai (lantai 5 dan 6) yang diuji coba. Begitu keluar dari lift di lantai 6, saya belok kiri menuju lorong untuk ke kamar. Di koridor inilah saya baru merasakan ketidakcocokan antara harga dengan kenyamanan yang disajikan. Kamar ini harus saya bayar dengan tarif Rp 2,5 juta/malam. Itu pun sudah harga travel. Kalau go show, pasti lebih mahal lagi.

Untuk tarif segitu tinggi, koridor ini kurang memberikan kesan mahal. Memang saya sendiri agak sulit kalau harus ikut memikirkan bagaimana sebaiknya koridor itu didesain. Sebab, sisi kiri koridor tersebut adalah dinding. Dinding mall, rupanya. Desainer lantas menutupi kelemahan itu dengan membuat jendela-jendela tipuan di sepanjang koridor. Yakni, jendela-jendela kaca. Meski begitu, tetap saja muncul kesan bahwa di balik kaca itu adalah dinding. Apalagi koridor ini terasa sangat sempit untuk ukuran kamar seharga Rp 2,5 juta. Kelihatannya koridor ini memerlukan sentuhan desainer sekali lagi. (bersambung)

March 21, 2009

Dahlan Iskan : RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama

Filed under: Uncategorized

Presiden Barack Obama minggu-minggu mendatang ini seperti memasuki arena perjudian besar di Amerika Serikat. Bukan saja untuk dirinya, juga untuk negara adikuasa itu.

Akankah ‘’perubahan'’ yang dijanjikan selama kampanye bisa dia lakukan? Atau terganjal oleh DPR yang kini lagi membahasnya? Tantangan dari kalangan konservatif sangat kuat. Agenda perubahan yang dia ajukan memang luar biasa besarnya. Bisa dibilang seperti mengubah arah kendaraan yang sedang melaju ke utara menjadi harus mengarah ke selatan.

Dalam dua bulan ke depan ini, kita akan melihat situasi di AS mirip dengan suasana masa kampanye dulu. Obama akan banyak terjun ke lapangan, tampil di media, dan mengerahkan segala kemampuannya agar rencana anggaran tahunan (RAPBN) yang dia ajukan ke DPR tidak ditolak.

Inti perubahan yang akan dia lakukan memang tecermin dalam rencana anggaran itu. Kalau DPR menolak RAPBN tersebut (atau menerimanya tapi dengan melakukan perubahan besar), Obama berada dalam keadaan kritis hanya dalam hitungan bulan pada awal masa jabatannya.

Karena itu, Obama akan all-out memperjuangkan RAPBN-nya. Cara sukses yang pernah dia lakukan ketika mengegolkan anggaran stimulus hampir USD 1 triliun dulu akan dia ulangi. Bahkan dengan tambahan cara-cara baru lagi. Waktu itu Obama menekan wakil rakyat yang lagi bersidang dengan cara terjun langsung ke daerah-daerah yang terkena krisis.

Di situ Obama menjelaskan langsung kepada rakyat mengapa dirinya harus menganggarkan stimulus sampai sebesar itu. Kalau saja Senat menolak, maka rakyat tahu siapa yang sebenarnya membela rakyat. Perdebatan di ruang wakil rakyat itu dia imbangi dengan perdebatan langsung di tengah masyarakat.

Tapi, kini, persoalan yang dia hadapi lebih berat. Ini bukan lagi sekadar stimulus. Ini sudah menyangkut arah pembangunan negara yang sedang diusulkan untuk diubah. Anggota DPR dari Partai Republik sudah pasti akan menolak. Perubahan itu bukan saja mengubah apa yang sudah mendarah daging di masyarakat Amerika, tapi juga langsung menantang ideologi konservatif.

Obama tahu risiko yang sedang dia hadapi. Karena itu, dia menyiapkan strategi kaki seribu.

Kalau penentang utamanya, Rush Limbaugh, memiliki 25 juta pendengar setia di siaran radionya, Obama akan menggunakan 14 juta orang yang dulu mendukungnya lewat jaringan internet, e-mail, dan Blackberry. Kalau pendengar radio Limbaugh adalah pendengar yang pasif, 14 juta orang yang berada dalam jaringan e-mail Obama adalah orang yang aktif.

Jaringan itu akan dia pakai untuk menjadi kelompok penekan opini. Kalau jaringan tersebut dulunya digunakan untuk membuat Obama terpilih jadi presiden, kini jaringan yang sama digunakan untuk kampanye meloloskan RAPBN.

Bukan hanya itu. Tim Obama juga menggerakkan relawan untuk program ‘’mengetok pintu rumah tetangga'’. Lebih dari seribu orang akan bergerak mengetok rumah-rumah orang yang dianggap menghambat pengesahan itu. Masih ada lagi gerakan yang lebih langsung: pendukungnya akan lebih rajin menelepon, mengirim e-mail, dan bicara secara langsung dengan anggota DPR yang dulu mereka pilih.

Lobi dan menekan anggota DPR akan terus dilakukan. Obama sendiri akan terus berkeliling daerah untuk bicara di depan umum, di media, dan di pertunjukan-pertunjukan lawak.

Dalam waktu dekat, kita akan melihat suasana mirip masa kampanye dulu bakal terulang di Amerika. Rasanya baru sekali ini ada sebuah RAPBN diperjuangkan seperti pemilu saja. Rakyat diajak memperdebatkannya.

Perdebatan di masyarakat akan menyaingi perdebatan di DPR. Bukan saja membicarakan uang itu akan digunakan untuk apa, tapi juga ke arah mana. RAPBN bukan dibicarakan di ruang tertutup oleh orang-orang tertentu saja di kamar hotel pula seperti membicarakan stimulus yang berakhir di KPK itu.

Apa saja persoalan rumit di RAPBN Obama?

Pertama adalah penanganan kesehatan. Sekarang ini terdapat 40 juta orang AS yang tidak tertangani oleh asuransi kesehatan. Obama akan membentuk asuransi kesehatan negara untuk orang miskin tersebut. Penentangnya menyatakan bahwa negara tidak harus menjadi agen asuransi seperti itu. Negara dianggap mengambil lahan bisnisnya pihak swasta.

Padahal, ideologi ‘’bisnis haruslah hanya dilakukan oleh swasta'’ diyakini sebagai kunci keberhasilan AS selama ini. Tidak pantas negara dengan menggunakan uang rakyat menjalankan bisnis yang akan menyaingi usaha rakyat/swasta. Itu sudah menyangkut ‘’hakikat'’ ideologi kapitalisme melawan sosialisme.

Lalu, soal pajak. Dalam RAPBN Obama, bisnis besar akan dikenai pajak lebih besar. Itu juga sudah menyangkut isu yang sangat sensitif di AS. Sama dengan kalau di Indonesia membicarakan soal jilbab atau Ahmadiyah atau Budha Bar.

Ideologi kapitalisme tentu menolak keras sistem pajak seperti itu. Pengusaha besar, melalui kerja keras mereka, adalah pahlawan pembangunan negara yang harus dihargai. Mengapa harus dipajaki untuk orang yang tidak mau kerja keras.

Obama sebenarnya tidak menaikkan pajak berlebihan. Dia hanya mengembalikan ke tarif pajak yang berlaku delapan tahun lalu. Tapi, kenikmatan pajak rendah itu sudah berjalan delapan tahun, sehingga mengembalikan ke tarif lama dianggap antiorang kaya. Memang, Presiden Bush yang melakukan pemotongan pajak yang sangat rendah delapan tahun lalu.

Di isu pajak ini, kalangan konservatif merasa khawatir pengusaha besar akan meninggalkan Amerika. Mereka bisa secara diam-diam memindahkan operasional perusahaan mereka ke negara yang memberi insentif pajak lebih baik.

Kota seperti New York sangat sensitif dengan isu seperti itu. Demikian pula bursa saham Wall Street. Turunnya indeks harga saham sampai menjadi sekitar 6.500 beberapa hari lalu kurang lebih akibat isu tersebut. Kalau saja pelarian modal itu sampai terjadi, timbul pertanyaan besar: apakah rencana ekonomi Obama akan berhasil? Di sini perdebatan akan sangat seru.

Tidak ada cara ampuh bagi Obama untuk mencegah larinya modal dari AS. Seruan agar mementingkan produk dalam negeri atau sejenisnya tidak akan efektif di negara demokrasi liberal. Karena itu, Obama akan menekan mati-matian negara lain (di forum G-20 di London akhir bulan ini) agar jangan memanfaatkan situasi di AS yang lagi mengenakan pajak tinggi. Obama tentu akan menekan negara yang memotong pajak dengan motif untuk menarik modal dari AS.

Soal sensitif lainnya adalah dihapusnya subsidi untuk pertanian. Itu sama sensitifnya dengan dihilangkannya subsidi pupuk di Indonesia. Di isu ini, penentangnya bukan hanya dari Partai Republik. Anggota DPR dari Partai Demokrat pun bisa-bisa akan banyak yang menentang. Mereka takut tidak terpilih lagi pada pemilu mendatang.

Obama memang akan menggerakkan jaringan partainya untuk ‘’menjaga'’ anggota DPR dari partainya sendiri, tapi tidak mudah meyakinkan mereka. Rumah anggota DPR dari Partai Demokrat rupanya akan menerima banyak ketukan pintu di rumahnya.

Isu yang lain lagi adalah soal defisit anggaran. Dalam RAPBN yang sedang diperjuangkan ini, Obama merencanakan defisit USD 1,75 triliun. Itu sama artinya dengan 20 persen dari GDP (produk domestik bruto) Amerika. Inilah defisit terbesar dalam sejarah AS. Juga defisit dengan persentasi terhadap GDP yang luar biasa (APBN Indonesia tahun ini dibuat defisit 3 persen).

Defisit yang besar itu sama artinya dengan menambah utang yang sudah sangat besar. Bukan saja kalangan AS sendiri yang khawatir. Perdana menteri Tiongkok pun, Wen Jiabao, secara terbuka mengemukakan apakah uang Tiongkok yang selama ini ‘’dipinjamkan'’ ke AS dalam posisi aman. Maklum, ada sekitar USD 1 triliun uang Tiongkok yang dipakai oleh AS. Obama sampai harus memberikan jaminan secara terbuka bahwa uang Tiongkok tersebut akan tetap aman.

Obama menyatakan defisit besar itu hanya sementara. Kian tahun defisit tersebut dia janjikan akan menurun. Pada akhir pemerintahannya empat tahun mendatang, defisit itu akan tinggal sekitar USD 500 miliar. Dan dalam delapan tahun ke depan sudah menjadi sangat kecil. Itulah yang diragukan penentangnya.

Kali ini juga bukan hanya dari Partai Republik, juga dari sementara kalangan Demokrat sendiri. Memang harus dipertanyakan: kalau saja terjadi arus modal keluar dari AS, apakah perencanaan itu tidak akan meleset.

Melihat dan mengikuti semua itu, kita di Indonesia seperti lagi belajar bagaimana sebaiknya APBN/APBD kita dibicarakan dan ke mana akan diarahkan.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 13, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (5-Habis)

Filed under: Uncategorized

PENYEBAB kekalahan golongan konservatif atas golongan liberal di Amerika Serikat dalam pemilu lalu, menurut Rush Limbaugh, penyiar radio yang kalau ke mana-mana menggunakan pesawat pribadi itu, sederhana saja. "Kita telanjur mengira semua orang tahu konservatifisme itu apa. Ternyata tidak," katanya. "Ternyata banyak orang yang salah mengerti mengenai konservatifisme. Konservatifisme dikira seperti yang dikesankan secara klise selama ini: antiras berwarna, fanatik, antiaborsi, anti perkawinan sejenis, dan seterusnya itu," katanya dalam pidato satu jam di depan konferensi golongan konservatif pekan lalu (lihat seri tulisan ini kemarin).

"Ini karena media-media tertentu sengaja membuat citra begitu. Juga karena golongan liberal di Partai Demokrat selalu mengampanyekan hal-hal seperti itu," katanya. Media-media yang dia golongkan pro-liberal tersebut misalnya New York Times, Washington Post, CNN, dan hampir semua koran besar di AS pada umumnya.

Lalu siapakah sebenarnya golongan konservatif itu?

Kata Limbaugh, "golongan konservatif adalah mereka yang mencintai manusia sebagai perorangan dengan cara melihat dari aspek potensi perorangannya. Bukan manusia sebagai kumpulan orang yang berkelas-kelas. Ini rasanya hanya lawan dari apa yang biasanya dijadikan jargon kalangan komunis yang selalu memandang manusia sebagai lapisan-lapisan masyarakat: lapisan kaya, lapisan miskin, lapisan buruh, lapisan tani, atau lapisan juragan.

Konservatifisme, kata musuh nomor satu Obama ini, lebih menghargai orang per orang lengkap dengan potensi, keinginan, dan ambisinya. Penghargaan inilah yang menjadi dasar perlunya diberikan kemerdekaan dan kebebasan yang penuh kepada warga Amerika orang per orang. Yakni, kebebasan mewujudkan keinginan dan ambisinya sesuai dengan potensi yang ada padanya. Tidak boleh ada peraturan dari mana pun, termasuk dari pemerintah, yang membatasi terwujudnya keinginan dan ambisi orang per orang itu.

Penganut konservatif percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia itu customized -setiap orang dibuat tidak ada yang sama. Karena itu, terjadinya perbedaan nasib orang per orang tidak perlu dipersoalkan. "Harus diberikan kebebasan sepenuhnya kepada siapa pun untuk menjadi apa saja yang terbaik yang diinginkannya. Termasuk kalau dia ingin hidup miskin," katanya. Memang, tidak ada orang yang ingin hidup miskin, tapi orang yang tidak mau berusaha keras untuk mewujudkan potensi dan ambisinya adalah orang yang pada dasarnya memang ingin hidup miskin.

Pengenaan pajak tinggi kepada orang kaya seperti yang diprogramkan Presiden Obama dalam rancangan APBN-nya, menurut prinsip liberalisme konservatif ini, sama artinya dengan pengekangan terhadap orang yang punya potensi untuk maju dan kaya. Mereka percaya kalau semua orang terus diberi kemerdekaan dan kebebasan, negara akan maju. Sebab, kemajuan negara pada dasarnya disumbangkan oleh orang-orang yang potensi majunya dipergunakan sebesar-besarnya tanpa dihambat sedikit pun. "Prinsip seperti inilah yang sudah terbukti membuat Amerika maju," kata Limbaugh.

Dia lantas mengemukakan mengapa Amerika sebagai negara yang baru berumur 300 tahun sudah bisa menjadi superpower tunggal dunia. Mengalahkan negara-negara yang umurnya sudah ribuan tahun. Katanya, ini karena sejak sebelum merdeka dulu Amerika sudah menganut paham konservatifisme. Tanpa memberikan penghargaan dan kemerdekaan yang penuh atas potensi orang per orang, kata Limbaugh, tidak mungkin Amerika menjadi superpower. "Keunggulan Amerika inilah yang kini diusahakan untuk dihancurkan oleh Obama dan golongan liberal yang lagi berkuasa," katanya. "Itulah sebabnya, mengapa saya mengharapkan Obama gagal," tambahnya.

Padahal, katanya, negara akan sukses kalau warga negaranya secara perorangan semuanya sukses. Karena itu, setiap orang harus mewujudkan ambisi dengan sekuat-kuatnya, tanpa dihambat oleh peraturan apa pun. Terlalu banyaknya peraturan pemerintah, katanya, akan membuat pemerintah sangat berkuasa. Termasuk berkuasa menentukan nasib orang per orang. Akibatnya, lama-lama, tanpa disadari, mematikan potensi orang karena akan membuat orang terlalu menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tanpa merasa harus berusaha keras merealisasikan potensinya secara sungguh-sungguh.

Upaya mengentas kemiskinan dengan cara memberikan bantuan seperti yang akan dilakukan Obama (meniru negara-negara lain yang menganut prinsip negara ksejahteraan), kata Limbaugh, pasti gagal. Kemiskinan tidak bisa diberantas dengan cara yang kelihatannya memberi bantuan, tapi sebenarnya mematikan potensi orang untuk bangkit. Yang dilakukan pemerintah seperti itu, katanya, sebenarnya hanya memanfaatkan orang miskin untuk kekuasaannya sendiri.

Bahkan, Limbaugh menyamakan pemungutan pajak kepada orang kaya itu pada dasarnya sama saja dengan pencuri harta orang lain. "Kalau saja itu dilakukan perorangan, hukumnya sudah kriminal," katanya.

Bagi kita yang di luar Amerika, kadang memang sulit memahami perbedaan antara ideologi liberalisme dan kapitalisme seperti itu. Kita memang sudah dibiasakan menganggap kedua-duanya musuh Pancasila. Kita sudah telanjur biasa mengira liberalisme dan kapitalisme itu satu "binatang". Jangankan belajar membedakannya, memikirkannya pun dianggap tidak perlu.

Baiknya, pertentangan itu di sana dibicarakan secara terbuka. Bahkan, dibicarakan sambil tertawa-tawa. Buktinya, pidato Limbaugh itu tidak ubahnya hiburan: penuh tepuk tangan dan tawa ger-geran. Kalau toh ada yang emosional, tetap saja terbatas pada kata-kata. Atau maksimum unjuk rasa. Itu pun unjuk rasa yang tidak destruktif. Dengan demikian, masyarakat yang pada umumnya sebenarnya tidak peduli, tidak terpancing ke mana-mana. Di AS, yang tidak tergolong dua golongan itu kira-kira mencapai 30 persen. Sisanya, condong ke liberalisme atau kapitalisme dengan jumlah yang hampir sama, naik turun.

Di kita, dengan demokrasi yang baru berumur 10 tahun, juga mulai terbiasa melihat banyak golongan yang masing-masing memidatokan prinsip-prinsip dan keinginan masing-masing. Atau yang saling mencela prinsip golongan lain. Kita, pada umumnya, juga sudah tidak terlalu peduli dengan semua itu. Bahkan, banyak juga yang kangen melihat seringnya iklan partai tertentu muncul di televisi -hanya karena gambarnya menarik tanpa mengubah pandangan pribadinya.

Kita juga sudah terbiasa melihat beberapa orang yang digolongkan ekstrem melakukan pidato di sana-sini. Tidak ada yang merasa takut lalu lari. Seorang teman yang dalam Salat Id lalu ternyata harus mendengarkan khotbah Al Ustad Abubakar Ba’asyir yang sangat keras di dekat rumahnya, ya tetap saja salat sampai akhir meski dia kemudian menceritakan isi khotbah itu kepada teman-temannya dengan cara sambil tertawa-tawa. Kata-kata ekstrem pun kini sudah dianggap sebagai hiburan.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 12, 2009

Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (4)

Filed under: Uncategorized

PIDATO nasional Presiden Barack Obama mengenai rencana pendapatan dan belanja negara yang baru (2010) minggu lalu membuat golongan konservatif semakin meneguhkan sikap bahwa Obama memang benar-benar sedang membawa Amerika Serikat menuju ke "kiri". Ini membuat golongan "kanan" yang semula masih berharap bahwa setelah terpilih Obama bisa lebih ke "tengah" kehilangan harapan itu. Maka, golongan "kanan" pun kini semakin mengonsolidasikan diri.

Wujud konsolidasi yang terbaru dan terjelas adalah diadakannya konferensi golongan kanan yang disebut "konferensi aksi golongan konservatif" di Washington pekan lalu. Yang hadir 6.000 orang dan disiarkan langsung oleh jaringan TV Fox News ke seluruh negara. TV Fox News dicitrakan sebagai jaringan TV yang dekat dengan golongan "kanan", yang berarti berseberangan dengan jaringan TV CNN yang dicitrakan dekat dengan golongan liberal.

Bintang pada konferensi itu adalah Rush Limbaugh, penyiar radio dengan gaji Rp 300 miliar setahun, yang kini menjadi lawan utama Presiden Obama di akar rumput. Keberaniannya melawan Obama secara terbuka bukan saja membuat pendengar siaran Limbaugh yang mencapai 30 juta orang itu naik terus, tapi juga membuat dia laris sebagai penceramah di mana-mana. Pada konferensi golongan konservatif pekan lalu itu dia mendapat alokasi pidato satu jam! Pidatonya luar biasa menarik. Dari catatan saya saja, 51 kali tepuk tangan meriah diberikan kepadanya. Limbaugh juga membuat hadirin tertawa ngakak sampai 16 kali. Bahkan, beberapa kali tepuk tangan itu disertai teriakan-teriakan koor, rasanya sampai enam kali. Bahwa pidato itu sangat sugestif bisa dilihat dari seringnya hadirin meneriakkan kata seperti "huuu…" setiap Limbaugh mengucapkan nama tertentu. Limbaugh sendiri juga kuat dalam bermimik, sampai-sampai untuk mengucapkan kata tertentu dia menunjukkan wajah yang sedang meringis atau mulut yang mencep (bahasa Jawa, untuk menunjukkan gerak bibir yang bisa mengesankan sedang meremehkan lawan, seperti yang sering diperagakan Megawati dalam wawancara di acara Kick Andy di Metro TV bulan lalu).

Limbaugh benar-benar seimbang kalau diperlawankan dengan Obama dalam hal kepintaran berpidato. Dari segi isi, pidato Limbaugh juga sangat dalam. Saya malah menarik kesan bahwa dia bisa jadi "ideolog" aliran konservatif. Seolah-olah dialah orang yang paling sah menafsirkan apa itu ideologi konservatif di Amerika. Dia bisa menjelaskan dengan baik apa itu ideologi "kanan" golongan konservatif dengan cara yang sangat mudah dimengerti (lihat lanjutan tulisan ini besok).

Dari segi lahiriah, pidato Limbaugh bahkan jauh lebih menarik daripada Obama. Pilihan kata-katanya sama hebatnya dengan Obama, tapi Limbaugh lebih lebih sering memeragakan humor, baik dengan kata-kata maupun gerakan.

Waktu memulai pidato itu saja, Limbaugh sudah memesona dengan kisah humornya. Tentu sebuah humor yang sekaligus mengejek lawan politiknya di media massa, yang juga tidak kalah terkenal dan legendarisnya itu: Larry King, penyiar TV CNN, yang tentu dari golongan liberal. Bedanya, Larry King adalah "raja" di televisi, sedangkan Limbaugh "raja" di radio. Limbaugh masih muda, sedangkan Larry King (sebagaimana bisa dilihat di televisi) sudah kelihatan sekali rentanya. Tentu Limbaugh merasa lebih tinggi daripada King karena kedalamannya dalam dunia ideologi.

Humor di pembukaan itu juga multitujuan karena bisa sekaligus menjelaskan mengapa orang selama ini menilai Limbaugh sebagai orang yang arogan atau sombong. Dia menganggap dirinya bukanlah orang yang sombong. Dia memang orang yang hebat! Simaklah humornya ini:

Ketika Larry King meninggal dunia, dia dipersilakan oleh penjaga surga, Saint Peter, untuk melihat-lihat suasa indahnya surga. "Selamat datang Mr King, senang Anda mati dan bisa sampai di sini. Saya persilakan Anda melihat-lihat suasana di sini sebelum memutuskan Anda akan memilih tempat yang mana. Ada pertanyaan?" ujar Saint Peter.

"Saya hanya ada satu pertanyaan saja. Apakah Rush Limbaugh ada di sini?" tanya Larry King. Tentu dengan nada yang iri.

"Tidak. Dia tidak ada di sini. Dia masih belum punya waktu. Dia masih muda," jawab Saint Peter.

Lalu, Larry King jalan-jalan di surga, melihat-lihat tempat-tempat yang tak tepermanai indahnya. Lalu dia masuk ke bangunan yang paling indah dan paling besar. Begitu masuk, Larry King kaget melihat mahkota dengan tulisan Rush Limbaugh di mahkota itu.

"Bukankah Anda mengatakan Rush Limbaugh tidak di sini?" tanya Larry King dengan penuh khawatir kepada Saint Peter.

"Memang tidak. Ini kan kamarnya Tuhan. Itu mahkotanya Tuhan. Tuhan saja yang selalu berobsesi untuk bisa seperti Limbaugh!" jawab Saint Peter.

Hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Rush Limbaugh lantas menggarisbawahi kesimpulan humor itu. "Jadi, siapa bilang saya itu sombong?" katanya.

Di awal pidato itu dia juga mencitrakan dirinya sebagai orang yang penting, lawan utama Obama dan tentu lawan seluruh golongan liberal. Tentu akan banyak ancaman melalui telepon selama dia berpidato itu nanti. ‘’Tidak apa-apa. Sudah ada petugas yang menerima telepon di belakang," katanya.

Lalu Limbaugh mengemukakan bahwa hadirin tidak perlu waswas akan keamanan dirinya. Bagian ini juga bisa mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang penuh percaya diri dan satiris sekaligus humoris. "Saya perkenalkan inilah kepala keamanan saya. Namanya Joseph Stalin. Saudara Joseph mohon berdiri…," ujar Limbaugh tanpa menjelaskan apakah nama yang menakutkan itu bagian dari kepintarannya menyeram-nyeramkan keadaan. Joseph Stalin adalah nama yang amat terkenal sebagai pemimpin tertinggi komunis dunia di masa lalu yang menakutkan.

"Jadi, di bawah pengamanan Joseph Stalin, saya safe di sini. Dijamin tidak akan ada serangan dari golongan liberal. Mana mungkin golongan liberal berani melawan Stalin," guraunya.

Pidato Limbaugh hari itu memang luar biasa sengitnya menyerang golongan liberal yang dia tuduh sebagai golongan kiri dan sedang membawa Amerika Serikat ke arah kiri. Terutama bisa dilihat dari kebijaksanaan APBN Obama yang, dia nilai, sangat pro-orang miskin dan antiorang kaya. "Amerika harus kita rebut kembali," seru Limbaugh.

Namun, Limbaugh juga menyadari bahwa golongan kanan lagi mengalami kesulitan yang sangat besar. Terutama untuk bisa merebut kembali Amerika dari golongan liberal. "Kita memang sedang dalam krisis kepemimpinan," katanya. Golongan kanan memang masih sangat sulit memilih siapa yang bisa tampil di depan. George Bush sudah terbukti kalah angin. Dia tidak mau menampilkan lagi tokoh puncak yang pernah menjadi presiden dan ketika menjabat terbukti payah. John McCain juga sudah terlalu tua dan sudah terbukti kalah dalam pemilu lalu. Sarah Palin memang sangat "kanan", tapi belum bisa jadi tokoh nasional. Ada calon lain yang muda, pintar, dan hebat. Dia adalah Bobby Jindal, gubernur Lousiana. Tokoh yang baru 38 tahun itu juga seperti Obama, tidak sepenuhnya kulit putih. Jindal adalah keturunan India. Tapi, rasanya juga kurang menarik bagi golongan kanan yang sangat fanatik kulit putih.

Mereka harus mencari yang sebanding dengan Obama. Limbaugh memuji kehebatan Obama habis-habisan. Mulai kepintaran otaknya dan terutama cara berkomunikasinya. "Sayangnya, dia ingin membawa Amerika bangkrut. Jadi, saya harap dia gagal sebagai presiden," ujarnya.

[sumber : http://www.jawapos.com]

Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (3)

Filed under: Uncategorized

PENANTANG utama Presiden Barack Obama lainnya adalah penyiar televisi. Bukan sembarang penyiar, dia adalah pengasuh acara yang khusus mengomentari masalah ekonomi dan keuangan di TV nasional CNBC. Dia seorang doktor ekonomi terkemuka, wartawan senior, dan juga pengajar di beberapa universitas penting. Dia juga pernah menjabat kepala tim ekonomi perusahaan keuangan raksasa Bear Stearns yang kini sudah bangkrut itu.

Dulu dia pengikut Partai Demokrat. Namun, sejak Presiden Ronald Reagan (Republik) masuk Gedung Putih, dia menjadi pejabat tinggi di pemerintahan itu. Dialah yang waktu itu mengurusi manajemen dan anggaran pemerintah. Dia seorang Yahudi, namun dalam proses penyembuhan dirinya akibat ketagihan alkohol dan narkoba di pertengahan 1990 lalu masuk Katolik. Lalu jadi badan penasihat Ave Maria Mutual Fund.

Namanya: Larry Kudlow.

Acara yang diasuhnya adalah: The Kudlow Report.

Tiap hari dia nongol di stasiun televisi dan setiap hari pula dia menyampaikan komentar mengenai langkah-langkah Obama yang dia nilai salah besar. Pidato nasional Obama yang berisi penjelasan prinsip-prinsip APBN yang akan dia ajukan ke DPR pekan lalu, dinilai Kudlow sebuah pemikiran hancur-hancuran. Kudlow yang juga dikenal sebagai salah satu dari 250 ahli ekonomi yang menandatangani petisi perlunya Presiden George Bush melakukan ‘’perang melawan terorisme'’, kali ini menganggap pidato Obama itu sebagai ‘’perang melawan investor'’.

Sebagai orang yang setiap hari harus mengomentari perkembangan ekonomi dan bursa saham, rupanya Kudlow sumpek melihat harga saham yang terjun bebas justru sejak Obama terpilih dalam pemilu sampai dia mengucapkan pidato nasional pekan lalu. "Inilah sebuah pidato untuk menyatakan perang terhadap investor, pengusaha, perusahaan, dan apa saja yang berbau ekonomi," katanya.

Pidato Obama itulah yang menurut Kudlow menjadi penyebab harga saham merosot sampai tinggal 6.500-an (dari yang tertinggi 14.000-an) sesaat setelah Obama menyelesaikan pidatonya. Dari pidatonya itu Kudlow menganggap Obama juga anti perusahaan besar, anti kekayaan pribadi, dan anti venture capital. Kebijakan Obama dia nilai sebagai ‘’kebijakan anti pertumbuhan'’. Di saat yang sama Obama mengikuti kebijakan ‘’pajak tinggi'’. Maka, Kudlow menyimpulkan secara sangar: ekonomi Amerika akan mengalami stagflasi. Yakni, di satu pihak menghadapi inflasi (kenaikan harga-harga barang), di pihak lain tidak ada kontraksi.

Keadaan stagflasi dalam ekonomi sama dengan kondisi orang sakit liver yang komplikasi dengan sakit gula. Livernya menghendaki tambahan gula, sedangkan sakit gulanya menghendaki jangan makan gula.

‘’Sama sekali tidak masuk akal,'’ ujar Kudlow. ‘’Baik dilihat dari kacamata mengatasi krisis sekarang ini atau dilihat dari usaha jangka panjang untuk melakukan ekspansi ekonomi,'’ tambahnya.

Kudlow memang termasuk ahli ekonomi yang beraliran ‘’supply side economy'’ -bahkan dia mendirikan persatuan untuk ahli-ahli ekonomi yang menganut aliran bahwa untuk bisa tumbuh ekonomi itu perlu dorongan. Karena itu, ahli seperti Kudlow selalu berpendapat bahwa pajak harus serendah-rendahnya agar orang bisa menggunakan uangnya untuk meningkatkan usaha. Dengan teori ini, iklim usaha akan bergairah dan ekonomi tumbuh subur.

Bahkan, menurut ahli aliran ini, pajak bumi dan bangunan, pajak dividen, dan pajak capital gain itu sama sekali tidak perlu ada! Di Indonesia pajak untuk dividen (pembagian laba perusahaan) adalah 10 persen, dan pajak capital gain 28 persen. ‘’Supply side economy" adalah aliran yang berpendapat bahwa untuk menggairahkan orang-orang agar memperbanyak produk barang dan jasa haruslah dengan cara memberi mereka iming-iming (insentif) yang menarik. Biasanya iming-iming itu diwujudkan dalam penentuan pajak yang rendah atau tanpa pajak sama sekali dan dikuranginya peraturan-peraturan pemerintah sampai sesedikit mungkin. Istilah ‘’supply side economy" itu sendiri belum lama diciptakan. Baru pada 1975 oleh wartawan terkemuka, Jude Wanniski. Di dalam term ekonomi politik, istilah itu sering disamakan dengan apa yang popular disebut "trickle down effect" atau teori "tetesan ke bawah".

Kini aliran ini memang lagi "mati angin" karena hasil maksimalnya ternyata kerakusan dan kerakusan inilah yang sudah disepakati sebagai penyebab terjadinya krisis global yang sangat berat sekarang ini. Tapi, aliran ini berpendapat bahwa krisis adalah sesuatu yang wajar yang harus diatasi dengan sistem pasar bebas pula. Perusahaan yang memang harus mati biarlah mati dan kelak terbentuk lagi keseimbangan baru sambil belajar dari pengalaman masa lalu.

Kalau aliran ini tetap dipertahankan (sebagaimana yang dianut di zaman George Bush bahkan dimulai sejak Ronald Reagan dan Clinton), keadaan memang sakit, tapi pada titik tertentu akan sembuh sendiri. Tentu dengan doa mudah-mudahan tidak ada yang lupa bahwa tawaran bunga tinggi itu bisa saja ternyata membuat uang justru melayang.

‘’Apa yang dilakukan Obama sekarang ini tidak lain hanya mengulangi apa yang dilakukan Lyndon B. Johnson dan Richard Nixon dulu," ujar Kudlow. ‘’Menjauhi apa yang sudah dilakukan Clinton dan Reagan," tambahnya. Kudlow pun lantas mengejek teman-temannya sesama profesional keuangan yang bekerja di bursa saham yang dalam kampanye lalu selalu mendukung Obama dengan slogan ‘’perubahan"-nya. Dengan kata lain, Kudlow seperti ingin mengatakan kepada mereka "rasain" sekarang. Tidak ada kegairahan sama sekali di pasar modal. Setiap hari yang ada adalah kemurungan, kelesuan, dan putus asa.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 10, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (2)

Filed under: Uncategorized

Memang tidak fair menilai Presiden Barack Obama gagal. Dia baru dua bulan menjadi presiden dan mewarisi kekacauan ekonomi yang gawat. Tapi, orang seperti Rush Limbaugh tidak mau tahu. Apalagi, keadaan ekonomi tidak berhenti merosot. Harapan yang terlalu besar kepada Obama dalam pemilu lalu rupanya mulai menimbulkan putus harapan.

Orang akan memaklumi kalau Obama belum bisa membuat ekonomi lebih baik. Tapi bahwa ekonomi kenyataannya kian merosot drastis (sejak terpilih hingga sebulan setelah jadi presiden harga saham merosot 3.000 poin) sama sekali di luar harapan. Apalagi, Obama sudah gagal dalam dua hal. Pertama, mewujudkan keyakinannya bahwa dia bisa menjadi tokoh pemersatu bangsa. Kedua, kampanyenya untuk membeli produk dalam negeri juga gagal.

Upayanya mempersatukan suara Demokrat dan Republik di Kongres (agar bisa bersama-sama menyelesaikan krisis) sudah gagal dalam ronde pertama. Memang, dia bisa mengegolkan paket stimulus hampir USD 1 trilun, tapi harga politiknya sangat mahal: semua anggota dari Partai Republik tidak memberikan persetujuan. Bahkan, orang seperti John McCain yang begitu kalah berjanji untuk bersama-sama memecahkan masalah bangsa sudah merasa diabaikan oleh Obama.

Mengenai kampanye membeli produk dalam negeri, tentu agak sulit dilaksanakan di lapangan. Mana yang produksi Amerika sendiri? Problem ini akan sama dengan kampanye serupa di Indonesia. Mayoritas barang adalah produksi asing. Salah satu penyebabnya, sebagaimana yang saya alami di pabrik steal conveyor belt milik Perusda Jatim, pajak impor bahan bakunya lebih tinggi (15 persen) dibanding pajak untuk mendatangkan barang yang sudah jadi (5 persen). Bahkan, pabrik satu-satunya di Indonesia yang kami dirikan dengan modal Rp 50 miliar dengan maksud mengurangi impor ini baru saja harus tutup dua bulan karena persoalan bahan baku seperti itu.

Di AS beredar luas juga mengenai barang apa yang harus dibeli kalau rakyat harus menuruti kampanye Obama. Terutama, penggunaan dana rakyat yang dialokasikan untuk stimulus ekonomi itu. Lihatlah humor di bawah ini:

Bila Anda belanja di Wal-Mart, semua uang itu akan mengalir ke Tiongkok.

Bila Anda beli bensin, semua uang itu akan mengalir ke Arab atau Venezuela.

Bila Anda membeli komputer, uang itu akan mengalir ke Taiwan.

Bila Anda membeli buah atau sayur, uang itu akan mengalir ke Meksiko.

Bila Anda membeli mobil, uangnya akan mengalir ke Jepang atau Korea.

Bila Anda membeli heroin, uangnya akan mengalir ke Taliban di Afghanistan.

Bila Anda menggunakan uang untuk menyumbang yayasan sosial, uangnya akan mengalir ke Nigeria.

Praktis uang itu hanya bisa dibelanjakan untuk nonton basket, minum bir, dan membuat tato di tangan.

Maka kalau di masa George Bush ada tokoh perfilman seperti Sutradara Michel Moore yang terus memburuk-burukkan citra Bush lewat film-filmnya, di masa Obama ini ada Rush Limbaugh, sang penyiar radio yang amat terkenal. Kalau Moore hanya sempat membuat dua film (9/11 dan Sicko) selama lima tahun kepemimpinan Bush yang kedua, Rush Limbaugh bisa setiap hari selama tiga jam di 650 stasiun radio mengejek Obama. Kalau Moore baru muncul di masa jabatan kedua Bush, Rush Limbaugh sudah berada di depan Obama sejak hari-hari pertama masa kepresidenannya. Bahkan, Limbaugh tidak hanya mengejek. Dia menantang Obama habis-habisan.

Lihatlah tantangannya yang selalu dia ucapkan dan dikutip jaringan video yang tersiar sangat luas. Tantangan itu dia berikan karena dia merasa Gedung Putih tetap ngotot dengan rencana perubahan misi negara. Juga karena Limbaugh merasa Obama terus menyerangnya. Misalnya, suatu saat Obama pernah menilai bahwa banyaknya tindak kriminalitas yang berlatar belakang kebencian adalah buah kampanye Limbaugh yang konservatif itu. Tahun lalu tindak kriminalitas atas orang Hispanic naik dua kali lipat.

Limbaugh memang pernah menerbitkan buku tentang imigran dari Amerika Latin yang dikenal sebagai Hispanic itu. Imigran Hispanis kini menjadi imigran terbesar di AS. Bukan saja isinya sangat keras, tapi gaya mengucapkannya benar-benar sangat provokatif: Judul bukunya: His Panic: Why American Fear Hispanic in the US! "Saya tidak akan menjabat tangan seseorang yang telah membuat kerusakan….," katanya.

Obama pernah mengecam Limbaugh sebagai xenophobia. Dan, Limbaugh sangat terganggu dengan penilaian itu. "Dia menuduh saya xenophobia? Menuduh saya harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa kriminalitas? Hati saya sungguh terganggu dengan tuduhan itu," katanya. "Obama bilang dia akan jadi tokoh pemersatu. Bagaimana mungkin menuduh saya begitu?" tambahnya.

Maka dia tantang Obama untuk berdebat. Lihatlah tantangannya ini. "…. Begini saja. Kalau orang-orang ini (maksudnya Obama dan pejabat tingginya) merasa diri mereka begitu hebat dan kalau mereka memang merasa bahwa merekalah yang sangat benar, mengapa tidak Presiden Obama datang ke studio saya ini dan bicara di talk show ini. Kita akan debat satu lawan satu mengenai ide-ide sampai kebijakan-kebijakan. Semua disiarkan utuh…. Mari kita berdebat. Saya tawarkan Presiden Obama datang ke sini tanpa didampingi staf, tanpa teks yang bisa dibaca, tanpa kertas-kertas catatan (tanpa krepekan) untuk mendebat saya mengenai semua isu yang saya lontarkan. Mari debat soal pasar bebas. Mari debat soal kesehatan dan peningkatan pajak untuk usaha kecil. Mari debat soal new deal versus Reaganomics. Mari debat soal penutupan tahanan Guantanamo Bay. Mari debat soal pengiriman uang USD 900 juta ke Hamas. Mari debat soal imigran gelap dan lemahnya hukum di perbatasan. Mari debat soal besarnya defisit anggaran dan hancurnya harapan untuk generasi yang akan datang. Mari debat soal Acorn, provokator masyarakat dan mengenai buruh…".

Masih banyak lagi agenda yang dia tawarkan. Melihat video pidato-pidatonya (dan bicaranya di corong radio) Limbaugh memang kelihatan sebagai orator yang luar biasa. Kalau saja John McCain hari itu punya gaya pidato dan jenis suara seperti yang dimiliki Limbaugh, bisa jadi tidak gampang Obama bisa menang. Obama akan mendapat lawan (khusus di bidang keahlian berpidato) dari penyiar radio ini.

Badannya yang gemuk, dahinya yang lebar dan wajahnya yang bulat dan umurnya yang masih 58 tahun membuat Limbaugh sangat menarik. Kalau pidato, badannya bergerak semua, seperti seorang pengkhotbah ulung. Mulutnya mengikuti tekanan suaranya hingga mengekspresikan maksudnya dengan total.

Mengingat pengaruh Rush Limbaugh lebih besar daripada partai oposisi, pekan-pekan depan ini akan menjadi sangat menarik untuk mengikuti bagaimana Obama menyikapi penyiar radio yang gajinya Rp 300 miliar setahun itu.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 9, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (1)

Filed under: Uncategorized

KINI mulai muncul lawan-lawan yang membahayakan presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama. Yang mengejutkan, musuh utamanya kini adalah seorang penyiar radio. Tentu kubu oposisi, Partai Republik, juga kian menunjukkan penentangannya, tapi tidak setelak penyiar radio itu. Maklum, Partai Republik sedang krisis kepemimpinan.

Begitu krisisnya sampai-sampai seorang pejabat Gedung Putih yang tentunya menjadi pendukung utama Obama melemparkan isu bahwa ketua umum Partai Republik yang sebenarnya saat ini adalah si penyiar radio itu. Karena Gedung Putih selalu menanggapi omongan penyiar radio tersebut, sang penyiar itu pun kian berkibar. Namanya bukan main ngetopnya seminggu terakhir ini: Rush Limbaugh.

Jumlah pendengarnya benar-benar fantastis. Terbanyak di antara pendengar siaran radio apa pun. Bahkan, ketika serangannya kepada Obama kian keras, jumlah pendengarnya terus berkembang. Harian Washington Post menyebut sampai 25 juta orang. Komentator terkemuka Pat Buchanan menyebut sampai 30 juta. Televisi Fox News menyebutkan 19 juta orang.

Obama yang kelihatannya juga sangat mementingkan pencitraan terasa sekali terganggu oleh Rush Limbaugh. Sampai-sampai dia mengimbau secara langsung agar pendukung Partai Republik tidak lagi mendengarkan siara Rush Limbaugh.

Tapi, Rush Limbaugh kian ‘’ganas'’. Pernyataannya yang terakhir justru tidak tedeng aling-aling lagi. ‘’Saya menginginkan Obama gagal,'’ katanya. Maka, gegerlah. Di tengah-tengah upaya pemulihan ekonomi, di tengah-tengah suasana krisis yang kian berat, Amerika Serikat juga menghadapi masalah ‘’kesatuan bangsa'’ yang berat di dalam negeri.

Rush Limbaugh mengasuh acara yang disebut Limbaugh Show selama tiga jam pada pukul 12.00 siang waktu Amerika bagian timur atau jam 10 pagi waktu Amerika bagian barat. Semua itu disiarkan dalam sebuah jaringan radio yang direlai di berbagai wilayah seluruh Amerika.

Pendengar Limbaugh umumnya memang masyarakat yang beraliran konservatif, pendukung utama Partai Republik. Mereka amat menyukai orang seperti George Bush atau Sarah Palin (gubernur Alaska yang mantan pasangan John McCain dalam pemilihan presiden yang lalu) dan sangat fanatik kepada kulit putih. Krisis kepemimpinan di Partai Republik menyebabkan tidak ada tokoh kuat yang bisa menjadi sandaran aspirasi golongan konservatif itu. Apalagi, pimpinan partai juga dituntut untuk lebih negarawan. Bukan saja di dalam partai itu juga terdapat banyak anggota yang beraliran lain, tapi soal-soal yang sensitif seperti soal ras tidak bisa secara leluasa menjadi agenda partai. Di saat seperti inilah, ketika ada orang yang anti-Obama dengan terang-terangan dan gayanya juga menarik, pengikutnya sangat banyak.

Bulan lalu, ketika perkumpulan orang konservatif Amerika mengadakan kongres, Rush Limbaugh juga diminta untuk menjadi pembicara. Di forum besar itu. sekali lagi, dia menegaskan harapannya agar Obama gagal. Sambutan dari yang hadir bukan main meriahnya. Tepuk tangan meriah berkali-kali menyambutnya. Bahkan, ketika beberapa pernyataan yang amat keras mengecam Obama, hadirin sampai bertepuk tangan sambil berdiri.

Rush Limbaugh seumur dengan saya: 58 tahun. Dia lahir di negara bagian yang memang terkenal dengan sifat masyarakatnya yang konservatif: Missouri. Keluarganya orang-orang terhormat: politisi dan pengacara terkenal. Bahkan, kakeknya menjadi pejabat tinggi negara. Limbaugh sendiri hanya tamatan SMA di daerah asalnya karena gagal menyelesaikan kuliah. Dia sempat masuk ke Universitas Southeast Missouri, tapi hanya bertahan dua semester. Penyebab kegagalan kuliahnya itu -sebagaimana dikemukakan ibunya kepada berbagai media- hanya satu: gagal di semua bidang mata pelajaran! ‘’Bahkan, dia gagal pada ‘pelajaran’ dansa di lantai-lantai dansa yang sebenarnya,'’ tutur ibunya lagi.

Limbaugh memang tidak tertarik kepada apa pun. Dia hanya menginginkan satu hal: menjadi penyiar radio. Rupanya dia sangat fokus sejak dari jiwa dan pikirannya. Maka, begitu gagal kuliah, dia pergi merantau ke tempat di mana bisa memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi penyiar. Pergilah dia ke Negara Bagian Pennsylvania dan menjadi disc jockey di sebuah radio. Berhasil. Dia terpilih sebagai top-40 disc jockey terbaik.

Dengan modal prestasinya itu, dia berpindah-pindah ke banyak kota: Kansas City, Sacramento, dan banyak kota lainnya untuk menjadi pengasuh acara talk show di radio. Terakhir, pada 1988, dia berhasil masuk ke New York. Dia diterima di Radio WABC (770 AM) dan berkibar di situ hingga sekarang. Bahkan, Limbaugh menjadi sangat berjasa dalam mengangkat kembali citra radio AM setelah pada 1970-an digusur oleh FM. Radio AM waktu itu dianggap tidak sebaik FM dalam memperdengarkan musik. Padahal, acara Limbaugh lebih mengutamakan talk show. Talk show-nya yang sangat sukses juga bisa menjadi jalan keluar bagi pemilik-pemilik radio AM di berbagai wilayah. Maka, kian banyak radio AM yang minta merelainya -bahkan sampai-sampai ada pula radio FM yang ikut bergabung. Terakhir sampai 650 radio yang ikut menyiarkan Rush Limbaugh Show.

Gaya talk show-nya yang menggabungkan antara memberikan kuliah sungguhan sambil mendengarkan musik dan mempermainkan soal-soal politik membuat Limbaugh seperti seorang penghibur, guru, dan juga politikus. Limbaugh juga pintar dalam mengambil hati dan menyerap aspirasi pendengarnya (terutama aspirasi golongan konservatif) sehingga dialah yang sebenarnya -bukan anggota DPR- yang bisa disebut mewakili suara rakyat golongan itu. Itulah sebabnya, pada masa lalu, para anggota DPR dari Partai Republik memberikan penghargaan kepadanya sebagai ‘’anggota DPR kehormatan'’. Atau, ‘’anggota DPR yang tidak resmi'’. Itu lantaran keberhasilan Partai Republik dalam menguasai kursi di DPR pada 2004 tidak bisa dilepaskan dari jasa Rush Limbaugh.

Obama yang kini gencar-gencarnya menyusun agenda penanganan krisis tentu tidak menginginkan suasana panas di akar rumput itu terus berkembang. Apalagi, agenda perubahan yang disiapkan Obama sangat mendasar sehingga akan banyak sekali mengundang pro-kontra.

Panasnya suasana di akar rumput, terus merosotnya harga saham di Wall Street, kian melonjaknya pengangguran, dan sensitifnya isu-isu yang akan dibawakan Obama tentu akan membuat perdebatan di DPR nanti sangat ketat. Padahal, APBN itu sudah harus mulai berlaku 1 Oktober depan. Tidak banyak lagi waktu bagi DPR untuk memperdebatkan.

Karena itu, banyak aspirasi yang menyarankan agar Obama mengabaikan saja penyiar radio tersebut. ‘’Tetaplah konsentrasi kepada misi untuk mengatasi krisis dan membawa perubahan,'’ tulis salah satu komentar di internet. Tapi, berdasar survei salah satu situs politik di sana menyimpulkan, 51 persen berpendapat bahwa Obama tidak boleh mengabaikan hal tersebut.

Salah satu isu yang akan sangat menghebohkan adalah rencana perubahan sistem kesehatan nasional yang, antara lain, didukung oleh Senator Ted Kennedy. Kennedy adalah orang yang seumur hidupnya memperjuangkan perlunya reformasi sistem kesehatan di AS. Dan, baru pada masa Obama ini idenya itu bisa diterima dan sudah dimasukkan sistem APBN yang sedang diusulkan ke DPR.

Tapi, Limbaugh juga sangat tidak menyukai perubahan itu. Begitu sengitnya perlawanan Limbaugh kepada pemerintahan Obama sampai-sampai dia terus mengampanyekan kata-kata ini: Saya mengharapkan Senator Ted Kennedy meninggal tepat di saat UU baru sistem kesehatan nasional itu disahkan. Ted kini memang sakit-sakitan. Dan, dia ingin bisa melihat perjuangannya itu berhasil sebelum dirinya meninggal. Dengan sinisnya, Limbaugh mengatakan dalam siarannya, ‘’Jadilah UU itu nanti sebuah UU yang diberi nama UU yang hanya untuk mengenang Ted Kennedy.'’

Komentar itu -meski memuaskan pengikutnya- tentu sangat memukul Kennedy. Apalagi, saat itu dia sedang sakit dan dalam kadaan seperti itu dia paksakan untuk ikut pertemuan puncak sistem kesehatan nasional. Karena itu, tokoh Demokrat menilai kata-kata Limbaugh tersebut telah melampaui batas dan memalukan. ‘’Para tokoh Partai Republik harus menghentikan Limbaugh dan mengatakan kepadanya bahwa cukuplah sudah,'’ kata Brian Wolf, tokoh Demokrat.

Tapi, Limbaugh tidak peduli. Bahkan, dia memanfaatkan situasi ekonomi yang sangat memburuk pekan lalu. ‘’Obama berbicara soal kesehatan terus kerena dia gagal mengatasi krisis ekonomi,'’ kecamnya. (Bersambung)

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 5, 2009

Dahlan Iskan : Lewat APBN, Obama Melawan Status Quo

Filed under: Uncategorized

begitu Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, November lalu, harga saham di Wall Street tetap turun. Sejak terpilih sampai pelantikannya, harga saham merosot lagi sampai 1.500 poin. Ketika Obama mulai melakukan perubahan besar, harga saham anjlok lagi sebanyak 1.500 poin. Selasa lalu, indeks harga saham New York itu tinggal 6.700-an. Jauh dari puncak kejayaannya sebelum krisis yang pernah mencapai 14.000.

Penurunan yang terus-menerus itu bukan saja mulai menggelisahkan, tetapi juga menurunkan rasa percaya diri masyarakat AS. Terutama ketika akibat krisis ini terasa semakin dalam. Padahal, seperti kata-kata Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao, "Percaya diri lebih berharga dari emas atau uang."

Meski penurunan indek saham sudah melewati angka 7.000, Obama masih terus percaya diri bahwa program perubahan yang dia janjikan tetap dia jalankan. Obama terkesan sama sekali tidak peduli dengan kemerosotan pasar saham itu. Obama masih kelihatan beranggapan bahwa kemerosotan itu -bahkan krisis sekarang ini- adalah akibat "dosa" pasar saham sendiri.

Sikapnya itulah yang kemudian semakin meneguhkan anggapan di kalangan lawan politiknya bahwa Obama akan membawa Amerika ke arah sosialisme. Dia dianggap tidak peduli pada bisnis besar yang lagi jatuh. Dia terus melancarkan program untuk menolong rakyat Amerika yang menganggur, berpendapatan rendah, dan yang bisa menciptakan pekerjaan yang banyak.

Begitu kuatnya ‘’bau" pembelaan kepada kelas bawah itu sampai-sampai lawan politiknya mulai mengubah nama tengah Barack H. Obama dengan Barack Hegel Obama. Hegel adalah pendiri sosialisme dunia sebelum ditingkatkan menjadi komunisme oleh Karl Marx. Bahkan, singkatan USA sendiri sudah dipelesetkan menjadi USSA (United States Socialist America) untuk memiripkan dengan singkatan USSR (Uni Soviet Socialist Republic). Dan, panggilan untuk Obama pun diubah menjadi Kamerad Obama, sebuah panggilan khas negara komunis.

‘’Kita baru saja mendengar bagaimana salesman terbaik dunia memasarkan sosialisme,'’ sindir seorang anggota senat setelah Obama memberikan pidato yang mengagumkan untuk mengantarkan APBN Amerika yang baru. ‘’Lenin dan Stalin mestinya sangat gembira mendengarkan pidato itu dari dalam kuburnya,'’ tambahnya. Lenin dan Stalin adalah tokoh penting komunis Rusia di masa lalu.

Tapi, Obama terlihat tidak ambil pusing. Dia yakin mayoritas rakyat tetap mendukungnya. Apalagi, rakyat sudah tahu garis prorakyatnya itu sejak sebelum pemilu. Dulu, Obama sudah menjelaskannya panjang lebar selama kampanye yang melelahkan itu. Calon dari Partai Republik juga sudah memberikan peringatan kepada rakyat bahwa Obama itu punya misi ‘’membagi-bagi'’ harta orang kaya kepada orang miskin seperti yang dilakukan di negara sosialis. Calon Wakil Presiden Sarah Palin paling terus terang dalam mengecam Obama sebagai sosialis saat itu. Toh, rakyat tetap memilih Obama.

Kecaman-kecaman terhadap Obama itu bisa dimaklumi. Secara naluriah Amerika memang antisosialis. Boleh dikata, belum lahir pun orang Amerika itu sudah antisosialis. Jangankan melaksanakan, melihat sosialisme pun sudah jijik. Bahkan, jangankan melihat, mendengar pun sudah antipati. Mungkin mirip dengan kalau mereka mendengar tentang Islam. Ini bisa dilihat bagaimana nama tengah Obama yang ‘’Hussein'’ itu pernah ditonjol-tonjolkan dengan maksud memojokkannya karena berbau Islam.

Obama tentu menyadari akan banyaknya reaksi negatif atas perubahan orientasi yang telah dan akan dia lakukan. Karena itu, dia juga terus menggalang opini sendiri lewat radio, televisi, dan internet. Ini agar lalu lintas opini tidak hanya dari arah Kongres dan Senat di mana kalangan Partai Republik terus melawannya. Obama sama sekali tidak terlihat ragu-ragu atau mengendurkan misi perubahannya. Dia sudah berjanji melakukan perubahan itu saat berkampanye di mana-mana. Dia tidak mau kalau apa yang dia lakukan setelah terpilih tidak sama dengan apa yang telah dia janjikan dalam kampanye. Maka, perlawanan dari Kongres dan Senat pun dia hadapi dengan membangun opini langsung kepada rakyat. Khususnya untuk mengegolkan rancangan anggaran belanja negara 2010 yang sangat pro-rakyat.

"Rencana anggaran yang seperti ini memang bisa mengancam pihak status quo yang ada di Washington," ujar Obama melalui pernyataan radio dan internet. Maksudnya, politisi-politisi lama di pusat kekuasaan tentu tidak suka dengan rancangan APBN yang sedang dia ajukan ke Kongres. ‘’Saya tidak akan melakukan sesuatu yang sama saja dengan yang lalu-lalu. Saya tidak mau kalau hanya melakukan langkah-langkah kecil," kata Obama mengenai RAPBN-nya itu.

Obama memang mewujudkan janji perubahan yang dia lakukan itu ke dalam RAPBN 2010. ABPN adalah cermin pelaksanaan program pemerintah. Biarpun berjanji akan melakukan perubahan, kalau sistem APBN-nya tidak berubah, sama saja dengan tidak melakukan perubahan. Atau, kalau toh ada perubahan, hanya akan berwujud perubahan-perubahan kecil. Obama tidak mau itu. Dia rombak sistem APBN agar bisa mencerminkan perubahan yang dia janjikan dalam kampanye.

Dalam RAPBN itu, misalnya, Obama merombak sistem anggaran pendidikan, kesehatan, dan pajak yang lebih tinggi bagi orang yang lebih kaya. ‘’Perusahaan asuransi pasti tidak senang melihat susunan APBN ini,'’ ujar Obama.

Bagaimana kalau rancangan anggaran itu ditolak DPR kelak? Di AS, presiden bisa melakukan veto. Inilah bagian yang bisa membuat posisi presiden yang langsung dipilih rakyat itu cukup kuat. Bahkan, DPR di sana tidak ikut campur secara detail mengenai alokasi anggaran dalam APBN. Berbeda dengan di kita, DPR punya peran besar dalam penyusunan detail anggaran. Salah satu akibatnya, orang pun perlu menyogok DPR untuk bisa mendapatkan proyek, sebagaimana terungkap dalam kasus-kasus korupsi di DPR belakangan ini.

Perdebatan RAPBN di Kongres AS hari-hari ini akan sangat menarik. Di sinilah aliran perubahan akan bentrok dengan keinginan untuk status quo. Obama menyadari upaya perubahan itu tidak akan gampang. "Sistem yang berjalan selama ini adalah sistem yang sudah begitu kuat. Juga sistem di mana berbagai kepentingan sudah jalin-menjalin begitu dalam, dan sudah mengakar begitu lama," ujar Obama. "Tapi, saya bekerja bukan untuk orang-orang seperti itu. Saya bekerja untuk seluruh rakyat Amerika," tegasnya.

Kita benar-benar akan melihat contoh sebuah perubahan yang dilakukan di negara yang menjadi penguasa dunia. Mungkin berhasil, mungkin tidak. Dua kemungkinan itu sama-sama mendebarkan karena terjadi di masa yang amat kritis, sulit, dan justru di saat pasar modal New York tinggal bernilai kurang dari separonya.

Akankah sosialisme dan kapitalisme sama-sama akan terkubur untuk kemudian lahir isme yang baru… entah apa namanya -kalau bukan Obamaisme? Masih terlalu dini untuk menyimpulkan karena babak pertunjukan itu belum sampai tahap goro-goro sekali pun.

 

[sumber: http://www.jawapos.com]

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com