Kompilasi Tulisan Dahlan Iskan

March 21, 2009

Dahlan Iskan : RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama

Filed under: Uncategorized

Presiden Barack Obama minggu-minggu mendatang ini seperti memasuki arena perjudian besar di Amerika Serikat. Bukan saja untuk dirinya, juga untuk negara adikuasa itu.

Akankah ‘’perubahan'’ yang dijanjikan selama kampanye bisa dia lakukan? Atau terganjal oleh DPR yang kini lagi membahasnya? Tantangan dari kalangan konservatif sangat kuat. Agenda perubahan yang dia ajukan memang luar biasa besarnya. Bisa dibilang seperti mengubah arah kendaraan yang sedang melaju ke utara menjadi harus mengarah ke selatan.

Dalam dua bulan ke depan ini, kita akan melihat situasi di AS mirip dengan suasana masa kampanye dulu. Obama akan banyak terjun ke lapangan, tampil di media, dan mengerahkan segala kemampuannya agar rencana anggaran tahunan (RAPBN) yang dia ajukan ke DPR tidak ditolak.

Inti perubahan yang akan dia lakukan memang tecermin dalam rencana anggaran itu. Kalau DPR menolak RAPBN tersebut (atau menerimanya tapi dengan melakukan perubahan besar), Obama berada dalam keadaan kritis hanya dalam hitungan bulan pada awal masa jabatannya.

Karena itu, Obama akan all-out memperjuangkan RAPBN-nya. Cara sukses yang pernah dia lakukan ketika mengegolkan anggaran stimulus hampir USD 1 triliun dulu akan dia ulangi. Bahkan dengan tambahan cara-cara baru lagi. Waktu itu Obama menekan wakil rakyat yang lagi bersidang dengan cara terjun langsung ke daerah-daerah yang terkena krisis.

Di situ Obama menjelaskan langsung kepada rakyat mengapa dirinya harus menganggarkan stimulus sampai sebesar itu. Kalau saja Senat menolak, maka rakyat tahu siapa yang sebenarnya membela rakyat. Perdebatan di ruang wakil rakyat itu dia imbangi dengan perdebatan langsung di tengah masyarakat.

Tapi, kini, persoalan yang dia hadapi lebih berat. Ini bukan lagi sekadar stimulus. Ini sudah menyangkut arah pembangunan negara yang sedang diusulkan untuk diubah. Anggota DPR dari Partai Republik sudah pasti akan menolak. Perubahan itu bukan saja mengubah apa yang sudah mendarah daging di masyarakat Amerika, tapi juga langsung menantang ideologi konservatif.

Obama tahu risiko yang sedang dia hadapi. Karena itu, dia menyiapkan strategi kaki seribu.

Kalau penentang utamanya, Rush Limbaugh, memiliki 25 juta pendengar setia di siaran radionya, Obama akan menggunakan 14 juta orang yang dulu mendukungnya lewat jaringan internet, e-mail, dan Blackberry. Kalau pendengar radio Limbaugh adalah pendengar yang pasif, 14 juta orang yang berada dalam jaringan e-mail Obama adalah orang yang aktif.

Jaringan itu akan dia pakai untuk menjadi kelompok penekan opini. Kalau jaringan tersebut dulunya digunakan untuk membuat Obama terpilih jadi presiden, kini jaringan yang sama digunakan untuk kampanye meloloskan RAPBN.

Bukan hanya itu. Tim Obama juga menggerakkan relawan untuk program ‘’mengetok pintu rumah tetangga'’. Lebih dari seribu orang akan bergerak mengetok rumah-rumah orang yang dianggap menghambat pengesahan itu. Masih ada lagi gerakan yang lebih langsung: pendukungnya akan lebih rajin menelepon, mengirim e-mail, dan bicara secara langsung dengan anggota DPR yang dulu mereka pilih.

Lobi dan menekan anggota DPR akan terus dilakukan. Obama sendiri akan terus berkeliling daerah untuk bicara di depan umum, di media, dan di pertunjukan-pertunjukan lawak.

Dalam waktu dekat, kita akan melihat suasana mirip masa kampanye dulu bakal terulang di Amerika. Rasanya baru sekali ini ada sebuah RAPBN diperjuangkan seperti pemilu saja. Rakyat diajak memperdebatkannya.

Perdebatan di masyarakat akan menyaingi perdebatan di DPR. Bukan saja membicarakan uang itu akan digunakan untuk apa, tapi juga ke arah mana. RAPBN bukan dibicarakan di ruang tertutup oleh orang-orang tertentu saja di kamar hotel pula seperti membicarakan stimulus yang berakhir di KPK itu.

Apa saja persoalan rumit di RAPBN Obama?

Pertama adalah penanganan kesehatan. Sekarang ini terdapat 40 juta orang AS yang tidak tertangani oleh asuransi kesehatan. Obama akan membentuk asuransi kesehatan negara untuk orang miskin tersebut. Penentangnya menyatakan bahwa negara tidak harus menjadi agen asuransi seperti itu. Negara dianggap mengambil lahan bisnisnya pihak swasta.

Padahal, ideologi ‘’bisnis haruslah hanya dilakukan oleh swasta'’ diyakini sebagai kunci keberhasilan AS selama ini. Tidak pantas negara dengan menggunakan uang rakyat menjalankan bisnis yang akan menyaingi usaha rakyat/swasta. Itu sudah menyangkut ‘’hakikat'’ ideologi kapitalisme melawan sosialisme.

Lalu, soal pajak. Dalam RAPBN Obama, bisnis besar akan dikenai pajak lebih besar. Itu juga sudah menyangkut isu yang sangat sensitif di AS. Sama dengan kalau di Indonesia membicarakan soal jilbab atau Ahmadiyah atau Budha Bar.

Ideologi kapitalisme tentu menolak keras sistem pajak seperti itu. Pengusaha besar, melalui kerja keras mereka, adalah pahlawan pembangunan negara yang harus dihargai. Mengapa harus dipajaki untuk orang yang tidak mau kerja keras.

Obama sebenarnya tidak menaikkan pajak berlebihan. Dia hanya mengembalikan ke tarif pajak yang berlaku delapan tahun lalu. Tapi, kenikmatan pajak rendah itu sudah berjalan delapan tahun, sehingga mengembalikan ke tarif lama dianggap antiorang kaya. Memang, Presiden Bush yang melakukan pemotongan pajak yang sangat rendah delapan tahun lalu.

Di isu pajak ini, kalangan konservatif merasa khawatir pengusaha besar akan meninggalkan Amerika. Mereka bisa secara diam-diam memindahkan operasional perusahaan mereka ke negara yang memberi insentif pajak lebih baik.

Kota seperti New York sangat sensitif dengan isu seperti itu. Demikian pula bursa saham Wall Street. Turunnya indeks harga saham sampai menjadi sekitar 6.500 beberapa hari lalu kurang lebih akibat isu tersebut. Kalau saja pelarian modal itu sampai terjadi, timbul pertanyaan besar: apakah rencana ekonomi Obama akan berhasil? Di sini perdebatan akan sangat seru.

Tidak ada cara ampuh bagi Obama untuk mencegah larinya modal dari AS. Seruan agar mementingkan produk dalam negeri atau sejenisnya tidak akan efektif di negara demokrasi liberal. Karena itu, Obama akan menekan mati-matian negara lain (di forum G-20 di London akhir bulan ini) agar jangan memanfaatkan situasi di AS yang lagi mengenakan pajak tinggi. Obama tentu akan menekan negara yang memotong pajak dengan motif untuk menarik modal dari AS.

Soal sensitif lainnya adalah dihapusnya subsidi untuk pertanian. Itu sama sensitifnya dengan dihilangkannya subsidi pupuk di Indonesia. Di isu ini, penentangnya bukan hanya dari Partai Republik. Anggota DPR dari Partai Demokrat pun bisa-bisa akan banyak yang menentang. Mereka takut tidak terpilih lagi pada pemilu mendatang.

Obama memang akan menggerakkan jaringan partainya untuk ‘’menjaga'’ anggota DPR dari partainya sendiri, tapi tidak mudah meyakinkan mereka. Rumah anggota DPR dari Partai Demokrat rupanya akan menerima banyak ketukan pintu di rumahnya.

Isu yang lain lagi adalah soal defisit anggaran. Dalam RAPBN yang sedang diperjuangkan ini, Obama merencanakan defisit USD 1,75 triliun. Itu sama artinya dengan 20 persen dari GDP (produk domestik bruto) Amerika. Inilah defisit terbesar dalam sejarah AS. Juga defisit dengan persentasi terhadap GDP yang luar biasa (APBN Indonesia tahun ini dibuat defisit 3 persen).

Defisit yang besar itu sama artinya dengan menambah utang yang sudah sangat besar. Bukan saja kalangan AS sendiri yang khawatir. Perdana menteri Tiongkok pun, Wen Jiabao, secara terbuka mengemukakan apakah uang Tiongkok yang selama ini ‘’dipinjamkan'’ ke AS dalam posisi aman. Maklum, ada sekitar USD 1 triliun uang Tiongkok yang dipakai oleh AS. Obama sampai harus memberikan jaminan secara terbuka bahwa uang Tiongkok tersebut akan tetap aman.

Obama menyatakan defisit besar itu hanya sementara. Kian tahun defisit tersebut dia janjikan akan menurun. Pada akhir pemerintahannya empat tahun mendatang, defisit itu akan tinggal sekitar USD 500 miliar. Dan dalam delapan tahun ke depan sudah menjadi sangat kecil. Itulah yang diragukan penentangnya.

Kali ini juga bukan hanya dari Partai Republik, juga dari sementara kalangan Demokrat sendiri. Memang harus dipertanyakan: kalau saja terjadi arus modal keluar dari AS, apakah perencanaan itu tidak akan meleset.

Melihat dan mengikuti semua itu, kita di Indonesia seperti lagi belajar bagaimana sebaiknya APBN/APBD kita dibicarakan dan ke mana akan diarahkan.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 13, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (5-Habis)

Filed under: Uncategorized

PENYEBAB kekalahan golongan konservatif atas golongan liberal di Amerika Serikat dalam pemilu lalu, menurut Rush Limbaugh, penyiar radio yang kalau ke mana-mana menggunakan pesawat pribadi itu, sederhana saja. "Kita telanjur mengira semua orang tahu konservatifisme itu apa. Ternyata tidak," katanya. "Ternyata banyak orang yang salah mengerti mengenai konservatifisme. Konservatifisme dikira seperti yang dikesankan secara klise selama ini: antiras berwarna, fanatik, antiaborsi, anti perkawinan sejenis, dan seterusnya itu," katanya dalam pidato satu jam di depan konferensi golongan konservatif pekan lalu (lihat seri tulisan ini kemarin).

"Ini karena media-media tertentu sengaja membuat citra begitu. Juga karena golongan liberal di Partai Demokrat selalu mengampanyekan hal-hal seperti itu," katanya. Media-media yang dia golongkan pro-liberal tersebut misalnya New York Times, Washington Post, CNN, dan hampir semua koran besar di AS pada umumnya.

Lalu siapakah sebenarnya golongan konservatif itu?

Kata Limbaugh, "golongan konservatif adalah mereka yang mencintai manusia sebagai perorangan dengan cara melihat dari aspek potensi perorangannya. Bukan manusia sebagai kumpulan orang yang berkelas-kelas. Ini rasanya hanya lawan dari apa yang biasanya dijadikan jargon kalangan komunis yang selalu memandang manusia sebagai lapisan-lapisan masyarakat: lapisan kaya, lapisan miskin, lapisan buruh, lapisan tani, atau lapisan juragan.

Konservatifisme, kata musuh nomor satu Obama ini, lebih menghargai orang per orang lengkap dengan potensi, keinginan, dan ambisinya. Penghargaan inilah yang menjadi dasar perlunya diberikan kemerdekaan dan kebebasan yang penuh kepada warga Amerika orang per orang. Yakni, kebebasan mewujudkan keinginan dan ambisinya sesuai dengan potensi yang ada padanya. Tidak boleh ada peraturan dari mana pun, termasuk dari pemerintah, yang membatasi terwujudnya keinginan dan ambisi orang per orang itu.

Penganut konservatif percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia itu customized -setiap orang dibuat tidak ada yang sama. Karena itu, terjadinya perbedaan nasib orang per orang tidak perlu dipersoalkan. "Harus diberikan kebebasan sepenuhnya kepada siapa pun untuk menjadi apa saja yang terbaik yang diinginkannya. Termasuk kalau dia ingin hidup miskin," katanya. Memang, tidak ada orang yang ingin hidup miskin, tapi orang yang tidak mau berusaha keras untuk mewujudkan potensi dan ambisinya adalah orang yang pada dasarnya memang ingin hidup miskin.

Pengenaan pajak tinggi kepada orang kaya seperti yang diprogramkan Presiden Obama dalam rancangan APBN-nya, menurut prinsip liberalisme konservatif ini, sama artinya dengan pengekangan terhadap orang yang punya potensi untuk maju dan kaya. Mereka percaya kalau semua orang terus diberi kemerdekaan dan kebebasan, negara akan maju. Sebab, kemajuan negara pada dasarnya disumbangkan oleh orang-orang yang potensi majunya dipergunakan sebesar-besarnya tanpa dihambat sedikit pun. "Prinsip seperti inilah yang sudah terbukti membuat Amerika maju," kata Limbaugh.

Dia lantas mengemukakan mengapa Amerika sebagai negara yang baru berumur 300 tahun sudah bisa menjadi superpower tunggal dunia. Mengalahkan negara-negara yang umurnya sudah ribuan tahun. Katanya, ini karena sejak sebelum merdeka dulu Amerika sudah menganut paham konservatifisme. Tanpa memberikan penghargaan dan kemerdekaan yang penuh atas potensi orang per orang, kata Limbaugh, tidak mungkin Amerika menjadi superpower. "Keunggulan Amerika inilah yang kini diusahakan untuk dihancurkan oleh Obama dan golongan liberal yang lagi berkuasa," katanya. "Itulah sebabnya, mengapa saya mengharapkan Obama gagal," tambahnya.

Padahal, katanya, negara akan sukses kalau warga negaranya secara perorangan semuanya sukses. Karena itu, setiap orang harus mewujudkan ambisi dengan sekuat-kuatnya, tanpa dihambat oleh peraturan apa pun. Terlalu banyaknya peraturan pemerintah, katanya, akan membuat pemerintah sangat berkuasa. Termasuk berkuasa menentukan nasib orang per orang. Akibatnya, lama-lama, tanpa disadari, mematikan potensi orang karena akan membuat orang terlalu menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tanpa merasa harus berusaha keras merealisasikan potensinya secara sungguh-sungguh.

Upaya mengentas kemiskinan dengan cara memberikan bantuan seperti yang akan dilakukan Obama (meniru negara-negara lain yang menganut prinsip negara ksejahteraan), kata Limbaugh, pasti gagal. Kemiskinan tidak bisa diberantas dengan cara yang kelihatannya memberi bantuan, tapi sebenarnya mematikan potensi orang untuk bangkit. Yang dilakukan pemerintah seperti itu, katanya, sebenarnya hanya memanfaatkan orang miskin untuk kekuasaannya sendiri.

Bahkan, Limbaugh menyamakan pemungutan pajak kepada orang kaya itu pada dasarnya sama saja dengan pencuri harta orang lain. "Kalau saja itu dilakukan perorangan, hukumnya sudah kriminal," katanya.

Bagi kita yang di luar Amerika, kadang memang sulit memahami perbedaan antara ideologi liberalisme dan kapitalisme seperti itu. Kita memang sudah dibiasakan menganggap kedua-duanya musuh Pancasila. Kita sudah telanjur biasa mengira liberalisme dan kapitalisme itu satu "binatang". Jangankan belajar membedakannya, memikirkannya pun dianggap tidak perlu.

Baiknya, pertentangan itu di sana dibicarakan secara terbuka. Bahkan, dibicarakan sambil tertawa-tawa. Buktinya, pidato Limbaugh itu tidak ubahnya hiburan: penuh tepuk tangan dan tawa ger-geran. Kalau toh ada yang emosional, tetap saja terbatas pada kata-kata. Atau maksimum unjuk rasa. Itu pun unjuk rasa yang tidak destruktif. Dengan demikian, masyarakat yang pada umumnya sebenarnya tidak peduli, tidak terpancing ke mana-mana. Di AS, yang tidak tergolong dua golongan itu kira-kira mencapai 30 persen. Sisanya, condong ke liberalisme atau kapitalisme dengan jumlah yang hampir sama, naik turun.

Di kita, dengan demokrasi yang baru berumur 10 tahun, juga mulai terbiasa melihat banyak golongan yang masing-masing memidatokan prinsip-prinsip dan keinginan masing-masing. Atau yang saling mencela prinsip golongan lain. Kita, pada umumnya, juga sudah tidak terlalu peduli dengan semua itu. Bahkan, banyak juga yang kangen melihat seringnya iklan partai tertentu muncul di televisi -hanya karena gambarnya menarik tanpa mengubah pandangan pribadinya.

Kita juga sudah terbiasa melihat beberapa orang yang digolongkan ekstrem melakukan pidato di sana-sini. Tidak ada yang merasa takut lalu lari. Seorang teman yang dalam Salat Id lalu ternyata harus mendengarkan khotbah Al Ustad Abubakar Ba’asyir yang sangat keras di dekat rumahnya, ya tetap saja salat sampai akhir meski dia kemudian menceritakan isi khotbah itu kepada teman-temannya dengan cara sambil tertawa-tawa. Kata-kata ekstrem pun kini sudah dianggap sebagai hiburan.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 12, 2009

Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (4)

Filed under: Uncategorized

PIDATO nasional Presiden Barack Obama mengenai rencana pendapatan dan belanja negara yang baru (2010) minggu lalu membuat golongan konservatif semakin meneguhkan sikap bahwa Obama memang benar-benar sedang membawa Amerika Serikat menuju ke "kiri". Ini membuat golongan "kanan" yang semula masih berharap bahwa setelah terpilih Obama bisa lebih ke "tengah" kehilangan harapan itu. Maka, golongan "kanan" pun kini semakin mengonsolidasikan diri.

Wujud konsolidasi yang terbaru dan terjelas adalah diadakannya konferensi golongan kanan yang disebut "konferensi aksi golongan konservatif" di Washington pekan lalu. Yang hadir 6.000 orang dan disiarkan langsung oleh jaringan TV Fox News ke seluruh negara. TV Fox News dicitrakan sebagai jaringan TV yang dekat dengan golongan "kanan", yang berarti berseberangan dengan jaringan TV CNN yang dicitrakan dekat dengan golongan liberal.

Bintang pada konferensi itu adalah Rush Limbaugh, penyiar radio dengan gaji Rp 300 miliar setahun, yang kini menjadi lawan utama Presiden Obama di akar rumput. Keberaniannya melawan Obama secara terbuka bukan saja membuat pendengar siaran Limbaugh yang mencapai 30 juta orang itu naik terus, tapi juga membuat dia laris sebagai penceramah di mana-mana. Pada konferensi golongan konservatif pekan lalu itu dia mendapat alokasi pidato satu jam! Pidatonya luar biasa menarik. Dari catatan saya saja, 51 kali tepuk tangan meriah diberikan kepadanya. Limbaugh juga membuat hadirin tertawa ngakak sampai 16 kali. Bahkan, beberapa kali tepuk tangan itu disertai teriakan-teriakan koor, rasanya sampai enam kali. Bahwa pidato itu sangat sugestif bisa dilihat dari seringnya hadirin meneriakkan kata seperti "huuu…" setiap Limbaugh mengucapkan nama tertentu. Limbaugh sendiri juga kuat dalam bermimik, sampai-sampai untuk mengucapkan kata tertentu dia menunjukkan wajah yang sedang meringis atau mulut yang mencep (bahasa Jawa, untuk menunjukkan gerak bibir yang bisa mengesankan sedang meremehkan lawan, seperti yang sering diperagakan Megawati dalam wawancara di acara Kick Andy di Metro TV bulan lalu).

Limbaugh benar-benar seimbang kalau diperlawankan dengan Obama dalam hal kepintaran berpidato. Dari segi isi, pidato Limbaugh juga sangat dalam. Saya malah menarik kesan bahwa dia bisa jadi "ideolog" aliran konservatif. Seolah-olah dialah orang yang paling sah menafsirkan apa itu ideologi konservatif di Amerika. Dia bisa menjelaskan dengan baik apa itu ideologi "kanan" golongan konservatif dengan cara yang sangat mudah dimengerti (lihat lanjutan tulisan ini besok).

Dari segi lahiriah, pidato Limbaugh bahkan jauh lebih menarik daripada Obama. Pilihan kata-katanya sama hebatnya dengan Obama, tapi Limbaugh lebih lebih sering memeragakan humor, baik dengan kata-kata maupun gerakan.

Waktu memulai pidato itu saja, Limbaugh sudah memesona dengan kisah humornya. Tentu sebuah humor yang sekaligus mengejek lawan politiknya di media massa, yang juga tidak kalah terkenal dan legendarisnya itu: Larry King, penyiar TV CNN, yang tentu dari golongan liberal. Bedanya, Larry King adalah "raja" di televisi, sedangkan Limbaugh "raja" di radio. Limbaugh masih muda, sedangkan Larry King (sebagaimana bisa dilihat di televisi) sudah kelihatan sekali rentanya. Tentu Limbaugh merasa lebih tinggi daripada King karena kedalamannya dalam dunia ideologi.

Humor di pembukaan itu juga multitujuan karena bisa sekaligus menjelaskan mengapa orang selama ini menilai Limbaugh sebagai orang yang arogan atau sombong. Dia menganggap dirinya bukanlah orang yang sombong. Dia memang orang yang hebat! Simaklah humornya ini:

Ketika Larry King meninggal dunia, dia dipersilakan oleh penjaga surga, Saint Peter, untuk melihat-lihat suasa indahnya surga. "Selamat datang Mr King, senang Anda mati dan bisa sampai di sini. Saya persilakan Anda melihat-lihat suasana di sini sebelum memutuskan Anda akan memilih tempat yang mana. Ada pertanyaan?" ujar Saint Peter.

"Saya hanya ada satu pertanyaan saja. Apakah Rush Limbaugh ada di sini?" tanya Larry King. Tentu dengan nada yang iri.

"Tidak. Dia tidak ada di sini. Dia masih belum punya waktu. Dia masih muda," jawab Saint Peter.

Lalu, Larry King jalan-jalan di surga, melihat-lihat tempat-tempat yang tak tepermanai indahnya. Lalu dia masuk ke bangunan yang paling indah dan paling besar. Begitu masuk, Larry King kaget melihat mahkota dengan tulisan Rush Limbaugh di mahkota itu.

"Bukankah Anda mengatakan Rush Limbaugh tidak di sini?" tanya Larry King dengan penuh khawatir kepada Saint Peter.

"Memang tidak. Ini kan kamarnya Tuhan. Itu mahkotanya Tuhan. Tuhan saja yang selalu berobsesi untuk bisa seperti Limbaugh!" jawab Saint Peter.

Hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Rush Limbaugh lantas menggarisbawahi kesimpulan humor itu. "Jadi, siapa bilang saya itu sombong?" katanya.

Di awal pidato itu dia juga mencitrakan dirinya sebagai orang yang penting, lawan utama Obama dan tentu lawan seluruh golongan liberal. Tentu akan banyak ancaman melalui telepon selama dia berpidato itu nanti. ‘’Tidak apa-apa. Sudah ada petugas yang menerima telepon di belakang," katanya.

Lalu Limbaugh mengemukakan bahwa hadirin tidak perlu waswas akan keamanan dirinya. Bagian ini juga bisa mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang penuh percaya diri dan satiris sekaligus humoris. "Saya perkenalkan inilah kepala keamanan saya. Namanya Joseph Stalin. Saudara Joseph mohon berdiri…," ujar Limbaugh tanpa menjelaskan apakah nama yang menakutkan itu bagian dari kepintarannya menyeram-nyeramkan keadaan. Joseph Stalin adalah nama yang amat terkenal sebagai pemimpin tertinggi komunis dunia di masa lalu yang menakutkan.

"Jadi, di bawah pengamanan Joseph Stalin, saya safe di sini. Dijamin tidak akan ada serangan dari golongan liberal. Mana mungkin golongan liberal berani melawan Stalin," guraunya.

Pidato Limbaugh hari itu memang luar biasa sengitnya menyerang golongan liberal yang dia tuduh sebagai golongan kiri dan sedang membawa Amerika Serikat ke arah kiri. Terutama bisa dilihat dari kebijaksanaan APBN Obama yang, dia nilai, sangat pro-orang miskin dan antiorang kaya. "Amerika harus kita rebut kembali," seru Limbaugh.

Namun, Limbaugh juga menyadari bahwa golongan kanan lagi mengalami kesulitan yang sangat besar. Terutama untuk bisa merebut kembali Amerika dari golongan liberal. "Kita memang sedang dalam krisis kepemimpinan," katanya. Golongan kanan memang masih sangat sulit memilih siapa yang bisa tampil di depan. George Bush sudah terbukti kalah angin. Dia tidak mau menampilkan lagi tokoh puncak yang pernah menjadi presiden dan ketika menjabat terbukti payah. John McCain juga sudah terlalu tua dan sudah terbukti kalah dalam pemilu lalu. Sarah Palin memang sangat "kanan", tapi belum bisa jadi tokoh nasional. Ada calon lain yang muda, pintar, dan hebat. Dia adalah Bobby Jindal, gubernur Lousiana. Tokoh yang baru 38 tahun itu juga seperti Obama, tidak sepenuhnya kulit putih. Jindal adalah keturunan India. Tapi, rasanya juga kurang menarik bagi golongan kanan yang sangat fanatik kulit putih.

Mereka harus mencari yang sebanding dengan Obama. Limbaugh memuji kehebatan Obama habis-habisan. Mulai kepintaran otaknya dan terutama cara berkomunikasinya. "Sayangnya, dia ingin membawa Amerika bangkrut. Jadi, saya harap dia gagal sebagai presiden," ujarnya.

[sumber : http://www.jawapos.com]

Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (3)

Filed under: Uncategorized

PENANTANG utama Presiden Barack Obama lainnya adalah penyiar televisi. Bukan sembarang penyiar, dia adalah pengasuh acara yang khusus mengomentari masalah ekonomi dan keuangan di TV nasional CNBC. Dia seorang doktor ekonomi terkemuka, wartawan senior, dan juga pengajar di beberapa universitas penting. Dia juga pernah menjabat kepala tim ekonomi perusahaan keuangan raksasa Bear Stearns yang kini sudah bangkrut itu.

Dulu dia pengikut Partai Demokrat. Namun, sejak Presiden Ronald Reagan (Republik) masuk Gedung Putih, dia menjadi pejabat tinggi di pemerintahan itu. Dialah yang waktu itu mengurusi manajemen dan anggaran pemerintah. Dia seorang Yahudi, namun dalam proses penyembuhan dirinya akibat ketagihan alkohol dan narkoba di pertengahan 1990 lalu masuk Katolik. Lalu jadi badan penasihat Ave Maria Mutual Fund.

Namanya: Larry Kudlow.

Acara yang diasuhnya adalah: The Kudlow Report.

Tiap hari dia nongol di stasiun televisi dan setiap hari pula dia menyampaikan komentar mengenai langkah-langkah Obama yang dia nilai salah besar. Pidato nasional Obama yang berisi penjelasan prinsip-prinsip APBN yang akan dia ajukan ke DPR pekan lalu, dinilai Kudlow sebuah pemikiran hancur-hancuran. Kudlow yang juga dikenal sebagai salah satu dari 250 ahli ekonomi yang menandatangani petisi perlunya Presiden George Bush melakukan ‘’perang melawan terorisme'’, kali ini menganggap pidato Obama itu sebagai ‘’perang melawan investor'’.

Sebagai orang yang setiap hari harus mengomentari perkembangan ekonomi dan bursa saham, rupanya Kudlow sumpek melihat harga saham yang terjun bebas justru sejak Obama terpilih dalam pemilu sampai dia mengucapkan pidato nasional pekan lalu. "Inilah sebuah pidato untuk menyatakan perang terhadap investor, pengusaha, perusahaan, dan apa saja yang berbau ekonomi," katanya.

Pidato Obama itulah yang menurut Kudlow menjadi penyebab harga saham merosot sampai tinggal 6.500-an (dari yang tertinggi 14.000-an) sesaat setelah Obama menyelesaikan pidatonya. Dari pidatonya itu Kudlow menganggap Obama juga anti perusahaan besar, anti kekayaan pribadi, dan anti venture capital. Kebijakan Obama dia nilai sebagai ‘’kebijakan anti pertumbuhan'’. Di saat yang sama Obama mengikuti kebijakan ‘’pajak tinggi'’. Maka, Kudlow menyimpulkan secara sangar: ekonomi Amerika akan mengalami stagflasi. Yakni, di satu pihak menghadapi inflasi (kenaikan harga-harga barang), di pihak lain tidak ada kontraksi.

Keadaan stagflasi dalam ekonomi sama dengan kondisi orang sakit liver yang komplikasi dengan sakit gula. Livernya menghendaki tambahan gula, sedangkan sakit gulanya menghendaki jangan makan gula.

‘’Sama sekali tidak masuk akal,'’ ujar Kudlow. ‘’Baik dilihat dari kacamata mengatasi krisis sekarang ini atau dilihat dari usaha jangka panjang untuk melakukan ekspansi ekonomi,'’ tambahnya.

Kudlow memang termasuk ahli ekonomi yang beraliran ‘’supply side economy'’ -bahkan dia mendirikan persatuan untuk ahli-ahli ekonomi yang menganut aliran bahwa untuk bisa tumbuh ekonomi itu perlu dorongan. Karena itu, ahli seperti Kudlow selalu berpendapat bahwa pajak harus serendah-rendahnya agar orang bisa menggunakan uangnya untuk meningkatkan usaha. Dengan teori ini, iklim usaha akan bergairah dan ekonomi tumbuh subur.

Bahkan, menurut ahli aliran ini, pajak bumi dan bangunan, pajak dividen, dan pajak capital gain itu sama sekali tidak perlu ada! Di Indonesia pajak untuk dividen (pembagian laba perusahaan) adalah 10 persen, dan pajak capital gain 28 persen. ‘’Supply side economy" adalah aliran yang berpendapat bahwa untuk menggairahkan orang-orang agar memperbanyak produk barang dan jasa haruslah dengan cara memberi mereka iming-iming (insentif) yang menarik. Biasanya iming-iming itu diwujudkan dalam penentuan pajak yang rendah atau tanpa pajak sama sekali dan dikuranginya peraturan-peraturan pemerintah sampai sesedikit mungkin. Istilah ‘’supply side economy" itu sendiri belum lama diciptakan. Baru pada 1975 oleh wartawan terkemuka, Jude Wanniski. Di dalam term ekonomi politik, istilah itu sering disamakan dengan apa yang popular disebut "trickle down effect" atau teori "tetesan ke bawah".

Kini aliran ini memang lagi "mati angin" karena hasil maksimalnya ternyata kerakusan dan kerakusan inilah yang sudah disepakati sebagai penyebab terjadinya krisis global yang sangat berat sekarang ini. Tapi, aliran ini berpendapat bahwa krisis adalah sesuatu yang wajar yang harus diatasi dengan sistem pasar bebas pula. Perusahaan yang memang harus mati biarlah mati dan kelak terbentuk lagi keseimbangan baru sambil belajar dari pengalaman masa lalu.

Kalau aliran ini tetap dipertahankan (sebagaimana yang dianut di zaman George Bush bahkan dimulai sejak Ronald Reagan dan Clinton), keadaan memang sakit, tapi pada titik tertentu akan sembuh sendiri. Tentu dengan doa mudah-mudahan tidak ada yang lupa bahwa tawaran bunga tinggi itu bisa saja ternyata membuat uang justru melayang.

‘’Apa yang dilakukan Obama sekarang ini tidak lain hanya mengulangi apa yang dilakukan Lyndon B. Johnson dan Richard Nixon dulu," ujar Kudlow. ‘’Menjauhi apa yang sudah dilakukan Clinton dan Reagan," tambahnya. Kudlow pun lantas mengejek teman-temannya sesama profesional keuangan yang bekerja di bursa saham yang dalam kampanye lalu selalu mendukung Obama dengan slogan ‘’perubahan"-nya. Dengan kata lain, Kudlow seperti ingin mengatakan kepada mereka "rasain" sekarang. Tidak ada kegairahan sama sekali di pasar modal. Setiap hari yang ada adalah kemurungan, kelesuan, dan putus asa.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 10, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (2)

Filed under: Uncategorized

Memang tidak fair menilai Presiden Barack Obama gagal. Dia baru dua bulan menjadi presiden dan mewarisi kekacauan ekonomi yang gawat. Tapi, orang seperti Rush Limbaugh tidak mau tahu. Apalagi, keadaan ekonomi tidak berhenti merosot. Harapan yang terlalu besar kepada Obama dalam pemilu lalu rupanya mulai menimbulkan putus harapan.

Orang akan memaklumi kalau Obama belum bisa membuat ekonomi lebih baik. Tapi bahwa ekonomi kenyataannya kian merosot drastis (sejak terpilih hingga sebulan setelah jadi presiden harga saham merosot 3.000 poin) sama sekali di luar harapan. Apalagi, Obama sudah gagal dalam dua hal. Pertama, mewujudkan keyakinannya bahwa dia bisa menjadi tokoh pemersatu bangsa. Kedua, kampanyenya untuk membeli produk dalam negeri juga gagal.

Upayanya mempersatukan suara Demokrat dan Republik di Kongres (agar bisa bersama-sama menyelesaikan krisis) sudah gagal dalam ronde pertama. Memang, dia bisa mengegolkan paket stimulus hampir USD 1 trilun, tapi harga politiknya sangat mahal: semua anggota dari Partai Republik tidak memberikan persetujuan. Bahkan, orang seperti John McCain yang begitu kalah berjanji untuk bersama-sama memecahkan masalah bangsa sudah merasa diabaikan oleh Obama.

Mengenai kampanye membeli produk dalam negeri, tentu agak sulit dilaksanakan di lapangan. Mana yang produksi Amerika sendiri? Problem ini akan sama dengan kampanye serupa di Indonesia. Mayoritas barang adalah produksi asing. Salah satu penyebabnya, sebagaimana yang saya alami di pabrik steal conveyor belt milik Perusda Jatim, pajak impor bahan bakunya lebih tinggi (15 persen) dibanding pajak untuk mendatangkan barang yang sudah jadi (5 persen). Bahkan, pabrik satu-satunya di Indonesia yang kami dirikan dengan modal Rp 50 miliar dengan maksud mengurangi impor ini baru saja harus tutup dua bulan karena persoalan bahan baku seperti itu.

Di AS beredar luas juga mengenai barang apa yang harus dibeli kalau rakyat harus menuruti kampanye Obama. Terutama, penggunaan dana rakyat yang dialokasikan untuk stimulus ekonomi itu. Lihatlah humor di bawah ini:

Bila Anda belanja di Wal-Mart, semua uang itu akan mengalir ke Tiongkok.

Bila Anda beli bensin, semua uang itu akan mengalir ke Arab atau Venezuela.

Bila Anda membeli komputer, uang itu akan mengalir ke Taiwan.

Bila Anda membeli buah atau sayur, uang itu akan mengalir ke Meksiko.

Bila Anda membeli mobil, uangnya akan mengalir ke Jepang atau Korea.

Bila Anda membeli heroin, uangnya akan mengalir ke Taliban di Afghanistan.

Bila Anda menggunakan uang untuk menyumbang yayasan sosial, uangnya akan mengalir ke Nigeria.

Praktis uang itu hanya bisa dibelanjakan untuk nonton basket, minum bir, dan membuat tato di tangan.

Maka kalau di masa George Bush ada tokoh perfilman seperti Sutradara Michel Moore yang terus memburuk-burukkan citra Bush lewat film-filmnya, di masa Obama ini ada Rush Limbaugh, sang penyiar radio yang amat terkenal. Kalau Moore hanya sempat membuat dua film (9/11 dan Sicko) selama lima tahun kepemimpinan Bush yang kedua, Rush Limbaugh bisa setiap hari selama tiga jam di 650 stasiun radio mengejek Obama. Kalau Moore baru muncul di masa jabatan kedua Bush, Rush Limbaugh sudah berada di depan Obama sejak hari-hari pertama masa kepresidenannya. Bahkan, Limbaugh tidak hanya mengejek. Dia menantang Obama habis-habisan.

Lihatlah tantangannya yang selalu dia ucapkan dan dikutip jaringan video yang tersiar sangat luas. Tantangan itu dia berikan karena dia merasa Gedung Putih tetap ngotot dengan rencana perubahan misi negara. Juga karena Limbaugh merasa Obama terus menyerangnya. Misalnya, suatu saat Obama pernah menilai bahwa banyaknya tindak kriminalitas yang berlatar belakang kebencian adalah buah kampanye Limbaugh yang konservatif itu. Tahun lalu tindak kriminalitas atas orang Hispanic naik dua kali lipat.

Limbaugh memang pernah menerbitkan buku tentang imigran dari Amerika Latin yang dikenal sebagai Hispanic itu. Imigran Hispanis kini menjadi imigran terbesar di AS. Bukan saja isinya sangat keras, tapi gaya mengucapkannya benar-benar sangat provokatif: Judul bukunya: His Panic: Why American Fear Hispanic in the US! "Saya tidak akan menjabat tangan seseorang yang telah membuat kerusakan….," katanya.

Obama pernah mengecam Limbaugh sebagai xenophobia. Dan, Limbaugh sangat terganggu dengan penilaian itu. "Dia menuduh saya xenophobia? Menuduh saya harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa kriminalitas? Hati saya sungguh terganggu dengan tuduhan itu," katanya. "Obama bilang dia akan jadi tokoh pemersatu. Bagaimana mungkin menuduh saya begitu?" tambahnya.

Maka dia tantang Obama untuk berdebat. Lihatlah tantangannya ini. "…. Begini saja. Kalau orang-orang ini (maksudnya Obama dan pejabat tingginya) merasa diri mereka begitu hebat dan kalau mereka memang merasa bahwa merekalah yang sangat benar, mengapa tidak Presiden Obama datang ke studio saya ini dan bicara di talk show ini. Kita akan debat satu lawan satu mengenai ide-ide sampai kebijakan-kebijakan. Semua disiarkan utuh…. Mari kita berdebat. Saya tawarkan Presiden Obama datang ke sini tanpa didampingi staf, tanpa teks yang bisa dibaca, tanpa kertas-kertas catatan (tanpa krepekan) untuk mendebat saya mengenai semua isu yang saya lontarkan. Mari debat soal pasar bebas. Mari debat soal kesehatan dan peningkatan pajak untuk usaha kecil. Mari debat soal new deal versus Reaganomics. Mari debat soal penutupan tahanan Guantanamo Bay. Mari debat soal pengiriman uang USD 900 juta ke Hamas. Mari debat soal imigran gelap dan lemahnya hukum di perbatasan. Mari debat soal besarnya defisit anggaran dan hancurnya harapan untuk generasi yang akan datang. Mari debat soal Acorn, provokator masyarakat dan mengenai buruh…".

Masih banyak lagi agenda yang dia tawarkan. Melihat video pidato-pidatonya (dan bicaranya di corong radio) Limbaugh memang kelihatan sebagai orator yang luar biasa. Kalau saja John McCain hari itu punya gaya pidato dan jenis suara seperti yang dimiliki Limbaugh, bisa jadi tidak gampang Obama bisa menang. Obama akan mendapat lawan (khusus di bidang keahlian berpidato) dari penyiar radio ini.

Badannya yang gemuk, dahinya yang lebar dan wajahnya yang bulat dan umurnya yang masih 58 tahun membuat Limbaugh sangat menarik. Kalau pidato, badannya bergerak semua, seperti seorang pengkhotbah ulung. Mulutnya mengikuti tekanan suaranya hingga mengekspresikan maksudnya dengan total.

Mengingat pengaruh Rush Limbaugh lebih besar daripada partai oposisi, pekan-pekan depan ini akan menjadi sangat menarik untuk mengikuti bagaimana Obama menyikapi penyiar radio yang gajinya Rp 300 miliar setahun itu.

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 9, 2009

Dahlan Iskan : Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (1)

Filed under: Uncategorized

KINI mulai muncul lawan-lawan yang membahayakan presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama. Yang mengejutkan, musuh utamanya kini adalah seorang penyiar radio. Tentu kubu oposisi, Partai Republik, juga kian menunjukkan penentangannya, tapi tidak setelak penyiar radio itu. Maklum, Partai Republik sedang krisis kepemimpinan.

Begitu krisisnya sampai-sampai seorang pejabat Gedung Putih yang tentunya menjadi pendukung utama Obama melemparkan isu bahwa ketua umum Partai Republik yang sebenarnya saat ini adalah si penyiar radio itu. Karena Gedung Putih selalu menanggapi omongan penyiar radio tersebut, sang penyiar itu pun kian berkibar. Namanya bukan main ngetopnya seminggu terakhir ini: Rush Limbaugh.

Jumlah pendengarnya benar-benar fantastis. Terbanyak di antara pendengar siaran radio apa pun. Bahkan, ketika serangannya kepada Obama kian keras, jumlah pendengarnya terus berkembang. Harian Washington Post menyebut sampai 25 juta orang. Komentator terkemuka Pat Buchanan menyebut sampai 30 juta. Televisi Fox News menyebutkan 19 juta orang.

Obama yang kelihatannya juga sangat mementingkan pencitraan terasa sekali terganggu oleh Rush Limbaugh. Sampai-sampai dia mengimbau secara langsung agar pendukung Partai Republik tidak lagi mendengarkan siara Rush Limbaugh.

Tapi, Rush Limbaugh kian ‘’ganas'’. Pernyataannya yang terakhir justru tidak tedeng aling-aling lagi. ‘’Saya menginginkan Obama gagal,'’ katanya. Maka, gegerlah. Di tengah-tengah upaya pemulihan ekonomi, di tengah-tengah suasana krisis yang kian berat, Amerika Serikat juga menghadapi masalah ‘’kesatuan bangsa'’ yang berat di dalam negeri.

Rush Limbaugh mengasuh acara yang disebut Limbaugh Show selama tiga jam pada pukul 12.00 siang waktu Amerika bagian timur atau jam 10 pagi waktu Amerika bagian barat. Semua itu disiarkan dalam sebuah jaringan radio yang direlai di berbagai wilayah seluruh Amerika.

Pendengar Limbaugh umumnya memang masyarakat yang beraliran konservatif, pendukung utama Partai Republik. Mereka amat menyukai orang seperti George Bush atau Sarah Palin (gubernur Alaska yang mantan pasangan John McCain dalam pemilihan presiden yang lalu) dan sangat fanatik kepada kulit putih. Krisis kepemimpinan di Partai Republik menyebabkan tidak ada tokoh kuat yang bisa menjadi sandaran aspirasi golongan konservatif itu. Apalagi, pimpinan partai juga dituntut untuk lebih negarawan. Bukan saja di dalam partai itu juga terdapat banyak anggota yang beraliran lain, tapi soal-soal yang sensitif seperti soal ras tidak bisa secara leluasa menjadi agenda partai. Di saat seperti inilah, ketika ada orang yang anti-Obama dengan terang-terangan dan gayanya juga menarik, pengikutnya sangat banyak.

Bulan lalu, ketika perkumpulan orang konservatif Amerika mengadakan kongres, Rush Limbaugh juga diminta untuk menjadi pembicara. Di forum besar itu. sekali lagi, dia menegaskan harapannya agar Obama gagal. Sambutan dari yang hadir bukan main meriahnya. Tepuk tangan meriah berkali-kali menyambutnya. Bahkan, ketika beberapa pernyataan yang amat keras mengecam Obama, hadirin sampai bertepuk tangan sambil berdiri.

Rush Limbaugh seumur dengan saya: 58 tahun. Dia lahir di negara bagian yang memang terkenal dengan sifat masyarakatnya yang konservatif: Missouri. Keluarganya orang-orang terhormat: politisi dan pengacara terkenal. Bahkan, kakeknya menjadi pejabat tinggi negara. Limbaugh sendiri hanya tamatan SMA di daerah asalnya karena gagal menyelesaikan kuliah. Dia sempat masuk ke Universitas Southeast Missouri, tapi hanya bertahan dua semester. Penyebab kegagalan kuliahnya itu -sebagaimana dikemukakan ibunya kepada berbagai media- hanya satu: gagal di semua bidang mata pelajaran! ‘’Bahkan, dia gagal pada ‘pelajaran’ dansa di lantai-lantai dansa yang sebenarnya,'’ tutur ibunya lagi.

Limbaugh memang tidak tertarik kepada apa pun. Dia hanya menginginkan satu hal: menjadi penyiar radio. Rupanya dia sangat fokus sejak dari jiwa dan pikirannya. Maka, begitu gagal kuliah, dia pergi merantau ke tempat di mana bisa memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi penyiar. Pergilah dia ke Negara Bagian Pennsylvania dan menjadi disc jockey di sebuah radio. Berhasil. Dia terpilih sebagai top-40 disc jockey terbaik.

Dengan modal prestasinya itu, dia berpindah-pindah ke banyak kota: Kansas City, Sacramento, dan banyak kota lainnya untuk menjadi pengasuh acara talk show di radio. Terakhir, pada 1988, dia berhasil masuk ke New York. Dia diterima di Radio WABC (770 AM) dan berkibar di situ hingga sekarang. Bahkan, Limbaugh menjadi sangat berjasa dalam mengangkat kembali citra radio AM setelah pada 1970-an digusur oleh FM. Radio AM waktu itu dianggap tidak sebaik FM dalam memperdengarkan musik. Padahal, acara Limbaugh lebih mengutamakan talk show. Talk show-nya yang sangat sukses juga bisa menjadi jalan keluar bagi pemilik-pemilik radio AM di berbagai wilayah. Maka, kian banyak radio AM yang minta merelainya -bahkan sampai-sampai ada pula radio FM yang ikut bergabung. Terakhir sampai 650 radio yang ikut menyiarkan Rush Limbaugh Show.

Gaya talk show-nya yang menggabungkan antara memberikan kuliah sungguhan sambil mendengarkan musik dan mempermainkan soal-soal politik membuat Limbaugh seperti seorang penghibur, guru, dan juga politikus. Limbaugh juga pintar dalam mengambil hati dan menyerap aspirasi pendengarnya (terutama aspirasi golongan konservatif) sehingga dialah yang sebenarnya -bukan anggota DPR- yang bisa disebut mewakili suara rakyat golongan itu. Itulah sebabnya, pada masa lalu, para anggota DPR dari Partai Republik memberikan penghargaan kepadanya sebagai ‘’anggota DPR kehormatan'’. Atau, ‘’anggota DPR yang tidak resmi'’. Itu lantaran keberhasilan Partai Republik dalam menguasai kursi di DPR pada 2004 tidak bisa dilepaskan dari jasa Rush Limbaugh.

Obama yang kini gencar-gencarnya menyusun agenda penanganan krisis tentu tidak menginginkan suasana panas di akar rumput itu terus berkembang. Apalagi, agenda perubahan yang disiapkan Obama sangat mendasar sehingga akan banyak sekali mengundang pro-kontra.

Panasnya suasana di akar rumput, terus merosotnya harga saham di Wall Street, kian melonjaknya pengangguran, dan sensitifnya isu-isu yang akan dibawakan Obama tentu akan membuat perdebatan di DPR nanti sangat ketat. Padahal, APBN itu sudah harus mulai berlaku 1 Oktober depan. Tidak banyak lagi waktu bagi DPR untuk memperdebatkan.

Karena itu, banyak aspirasi yang menyarankan agar Obama mengabaikan saja penyiar radio tersebut. ‘’Tetaplah konsentrasi kepada misi untuk mengatasi krisis dan membawa perubahan,'’ tulis salah satu komentar di internet. Tapi, berdasar survei salah satu situs politik di sana menyimpulkan, 51 persen berpendapat bahwa Obama tidak boleh mengabaikan hal tersebut.

Salah satu isu yang akan sangat menghebohkan adalah rencana perubahan sistem kesehatan nasional yang, antara lain, didukung oleh Senator Ted Kennedy. Kennedy adalah orang yang seumur hidupnya memperjuangkan perlunya reformasi sistem kesehatan di AS. Dan, baru pada masa Obama ini idenya itu bisa diterima dan sudah dimasukkan sistem APBN yang sedang diusulkan ke DPR.

Tapi, Limbaugh juga sangat tidak menyukai perubahan itu. Begitu sengitnya perlawanan Limbaugh kepada pemerintahan Obama sampai-sampai dia terus mengampanyekan kata-kata ini: Saya mengharapkan Senator Ted Kennedy meninggal tepat di saat UU baru sistem kesehatan nasional itu disahkan. Ted kini memang sakit-sakitan. Dan, dia ingin bisa melihat perjuangannya itu berhasil sebelum dirinya meninggal. Dengan sinisnya, Limbaugh mengatakan dalam siarannya, ‘’Jadilah UU itu nanti sebuah UU yang diberi nama UU yang hanya untuk mengenang Ted Kennedy.'’

Komentar itu -meski memuaskan pengikutnya- tentu sangat memukul Kennedy. Apalagi, saat itu dia sedang sakit dan dalam kadaan seperti itu dia paksakan untuk ikut pertemuan puncak sistem kesehatan nasional. Karena itu, tokoh Demokrat menilai kata-kata Limbaugh tersebut telah melampaui batas dan memalukan. ‘’Para tokoh Partai Republik harus menghentikan Limbaugh dan mengatakan kepadanya bahwa cukuplah sudah,'’ kata Brian Wolf, tokoh Demokrat.

Tapi, Limbaugh tidak peduli. Bahkan, dia memanfaatkan situasi ekonomi yang sangat memburuk pekan lalu. ‘’Obama berbicara soal kesehatan terus kerena dia gagal mengatasi krisis ekonomi,'’ kecamnya. (Bersambung)

[sumber : http://www.jawapos.com]

March 5, 2009

Dahlan Iskan : Lewat APBN, Obama Melawan Status Quo

Filed under: Uncategorized

begitu Obama terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, November lalu, harga saham di Wall Street tetap turun. Sejak terpilih sampai pelantikannya, harga saham merosot lagi sampai 1.500 poin. Ketika Obama mulai melakukan perubahan besar, harga saham anjlok lagi sebanyak 1.500 poin. Selasa lalu, indeks harga saham New York itu tinggal 6.700-an. Jauh dari puncak kejayaannya sebelum krisis yang pernah mencapai 14.000.

Penurunan yang terus-menerus itu bukan saja mulai menggelisahkan, tetapi juga menurunkan rasa percaya diri masyarakat AS. Terutama ketika akibat krisis ini terasa semakin dalam. Padahal, seperti kata-kata Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao, "Percaya diri lebih berharga dari emas atau uang."

Meski penurunan indek saham sudah melewati angka 7.000, Obama masih terus percaya diri bahwa program perubahan yang dia janjikan tetap dia jalankan. Obama terkesan sama sekali tidak peduli dengan kemerosotan pasar saham itu. Obama masih kelihatan beranggapan bahwa kemerosotan itu -bahkan krisis sekarang ini- adalah akibat "dosa" pasar saham sendiri.

Sikapnya itulah yang kemudian semakin meneguhkan anggapan di kalangan lawan politiknya bahwa Obama akan membawa Amerika ke arah sosialisme. Dia dianggap tidak peduli pada bisnis besar yang lagi jatuh. Dia terus melancarkan program untuk menolong rakyat Amerika yang menganggur, berpendapatan rendah, dan yang bisa menciptakan pekerjaan yang banyak.

Begitu kuatnya ‘’bau" pembelaan kepada kelas bawah itu sampai-sampai lawan politiknya mulai mengubah nama tengah Barack H. Obama dengan Barack Hegel Obama. Hegel adalah pendiri sosialisme dunia sebelum ditingkatkan menjadi komunisme oleh Karl Marx. Bahkan, singkatan USA sendiri sudah dipelesetkan menjadi USSA (United States Socialist America) untuk memiripkan dengan singkatan USSR (Uni Soviet Socialist Republic). Dan, panggilan untuk Obama pun diubah menjadi Kamerad Obama, sebuah panggilan khas negara komunis.

‘’Kita baru saja mendengar bagaimana salesman terbaik dunia memasarkan sosialisme,'’ sindir seorang anggota senat setelah Obama memberikan pidato yang mengagumkan untuk mengantarkan APBN Amerika yang baru. ‘’Lenin dan Stalin mestinya sangat gembira mendengarkan pidato itu dari dalam kuburnya,'’ tambahnya. Lenin dan Stalin adalah tokoh penting komunis Rusia di masa lalu.

Tapi, Obama terlihat tidak ambil pusing. Dia yakin mayoritas rakyat tetap mendukungnya. Apalagi, rakyat sudah tahu garis prorakyatnya itu sejak sebelum pemilu. Dulu, Obama sudah menjelaskannya panjang lebar selama kampanye yang melelahkan itu. Calon dari Partai Republik juga sudah memberikan peringatan kepada rakyat bahwa Obama itu punya misi ‘’membagi-bagi'’ harta orang kaya kepada orang miskin seperti yang dilakukan di negara sosialis. Calon Wakil Presiden Sarah Palin paling terus terang dalam mengecam Obama sebagai sosialis saat itu. Toh, rakyat tetap memilih Obama.

Kecaman-kecaman terhadap Obama itu bisa dimaklumi. Secara naluriah Amerika memang antisosialis. Boleh dikata, belum lahir pun orang Amerika itu sudah antisosialis. Jangankan melaksanakan, melihat sosialisme pun sudah jijik. Bahkan, jangankan melihat, mendengar pun sudah antipati. Mungkin mirip dengan kalau mereka mendengar tentang Islam. Ini bisa dilihat bagaimana nama tengah Obama yang ‘’Hussein'’ itu pernah ditonjol-tonjolkan dengan maksud memojokkannya karena berbau Islam.

Obama tentu menyadari akan banyaknya reaksi negatif atas perubahan orientasi yang telah dan akan dia lakukan. Karena itu, dia juga terus menggalang opini sendiri lewat radio, televisi, dan internet. Ini agar lalu lintas opini tidak hanya dari arah Kongres dan Senat di mana kalangan Partai Republik terus melawannya. Obama sama sekali tidak terlihat ragu-ragu atau mengendurkan misi perubahannya. Dia sudah berjanji melakukan perubahan itu saat berkampanye di mana-mana. Dia tidak mau kalau apa yang dia lakukan setelah terpilih tidak sama dengan apa yang telah dia janjikan dalam kampanye. Maka, perlawanan dari Kongres dan Senat pun dia hadapi dengan membangun opini langsung kepada rakyat. Khususnya untuk mengegolkan rancangan anggaran belanja negara 2010 yang sangat pro-rakyat.

"Rencana anggaran yang seperti ini memang bisa mengancam pihak status quo yang ada di Washington," ujar Obama melalui pernyataan radio dan internet. Maksudnya, politisi-politisi lama di pusat kekuasaan tentu tidak suka dengan rancangan APBN yang sedang dia ajukan ke Kongres. ‘’Saya tidak akan melakukan sesuatu yang sama saja dengan yang lalu-lalu. Saya tidak mau kalau hanya melakukan langkah-langkah kecil," kata Obama mengenai RAPBN-nya itu.

Obama memang mewujudkan janji perubahan yang dia lakukan itu ke dalam RAPBN 2010. ABPN adalah cermin pelaksanaan program pemerintah. Biarpun berjanji akan melakukan perubahan, kalau sistem APBN-nya tidak berubah, sama saja dengan tidak melakukan perubahan. Atau, kalau toh ada perubahan, hanya akan berwujud perubahan-perubahan kecil. Obama tidak mau itu. Dia rombak sistem APBN agar bisa mencerminkan perubahan yang dia janjikan dalam kampanye.

Dalam RAPBN itu, misalnya, Obama merombak sistem anggaran pendidikan, kesehatan, dan pajak yang lebih tinggi bagi orang yang lebih kaya. ‘’Perusahaan asuransi pasti tidak senang melihat susunan APBN ini,'’ ujar Obama.

Bagaimana kalau rancangan anggaran itu ditolak DPR kelak? Di AS, presiden bisa melakukan veto. Inilah bagian yang bisa membuat posisi presiden yang langsung dipilih rakyat itu cukup kuat. Bahkan, DPR di sana tidak ikut campur secara detail mengenai alokasi anggaran dalam APBN. Berbeda dengan di kita, DPR punya peran besar dalam penyusunan detail anggaran. Salah satu akibatnya, orang pun perlu menyogok DPR untuk bisa mendapatkan proyek, sebagaimana terungkap dalam kasus-kasus korupsi di DPR belakangan ini.

Perdebatan RAPBN di Kongres AS hari-hari ini akan sangat menarik. Di sinilah aliran perubahan akan bentrok dengan keinginan untuk status quo. Obama menyadari upaya perubahan itu tidak akan gampang. "Sistem yang berjalan selama ini adalah sistem yang sudah begitu kuat. Juga sistem di mana berbagai kepentingan sudah jalin-menjalin begitu dalam, dan sudah mengakar begitu lama," ujar Obama. "Tapi, saya bekerja bukan untuk orang-orang seperti itu. Saya bekerja untuk seluruh rakyat Amerika," tegasnya.

Kita benar-benar akan melihat contoh sebuah perubahan yang dilakukan di negara yang menjadi penguasa dunia. Mungkin berhasil, mungkin tidak. Dua kemungkinan itu sama-sama mendebarkan karena terjadi di masa yang amat kritis, sulit, dan justru di saat pasar modal New York tinggal bernilai kurang dari separonya.

Akankah sosialisme dan kapitalisme sama-sama akan terkubur untuk kemudian lahir isme yang baru… entah apa namanya -kalau bukan Obamaisme? Masih terlalu dini untuk menyimpulkan karena babak pertunjukan itu belum sampai tahap goro-goro sekali pun.

 

[sumber: http://www.jawapos.com]

March 3, 2009

Dahlan Iskan : Gaya Pemimpin Krisis

Filed under: Uncategorized

Di masa krisis berat seperti ini, para pemimpin dunia kelihatannya melakukan komunikasi langsung dengan rakyatnya melebihi dari yang sudah-sudah. Presiden Obama dan Perdana Menteri Wen Jiabao dua contoh yang amat menarik.

Ketika Senat Amerika Serikat memperdebatkan setuju atau tidak atas langkah-langkah presiden baru itu, Obama berdialog langsung dengan rakyat di beberapa kota yang paling terkena krisis. Kemarin lusa, pemimpin dari negara komunis yang biasanya sangat tertutup pun, chatting langsung dengan jutaan netter-nya selama dua jam lebih.

Ketika para wakil rakyat kelihatan keberatan untuk menyetujui usaha mengatasi krisis, Obama seakan membuat sidang tandingan. Meski sudah menjadi presiden, pidato Obama saat itu persis ketika masih jadi calon presiden: santai sekali seperti tidak ada beban. Bahkan, di sela-sela pidato, sesekali dia mengambil minum sendiri. Bukan dari gelas yang sudah tersedia di atas podium, tapi dari botol yang dia taruh di lantai dekat podium. Seorang presiden AS melakukan itu.

Tanpa moderator dia juga langsung melakukan tanya jawab dengan yang hadir di gedung itu. Ketika ada seorang wanita yang mengeluhkan nasibnya di saat krisis ini, dia datangi wanita itu. Dia cium, dia bisikkan kata-kata yang memberi harapan. Sama sekali tidak menggambarkan prosedur, tata cara, dan security seorang presiden.

Cara demikian dia perlukan karena dia harus bersaing langsung dengan wakil rakyat. Sidang di senat (wakil rakyat) yang menegangkan itu disiarkan langsung oleh jaringan TV. Dialog Obama dengan rakyat juga disiarkan langsung oleh TV. Stasiun TV pun kesulitan mau memilih menyiarkan yang mana: dua-duanya menarik. Maka banyak stasiun TV yang membagi dua layarnya: sebelah kiri siaran langsung sidang wakil rakyat, sebelah kanan siaran langsung "sidang" Obama dengan rakyat. Seakan-akan Obama ingin menunjukkan siapa yang benar-benar mewakili hati nurani rakyat: dia atau wakil rakyat. Pemirsa pun bisa membandingkan secara langsung mana yang lebih memenuhi harapan rakyat: wakil mereka atau Obama.

Yang menarik, di gedung senat itu juga bisa diikuti siaran langsung apa saja yang dilakukan Obama di depan rakyatnya. Sebaliknya, informasi apa saja yang sedang dibicarakan di gedung senat juga bisa diikuti para staf Obama di gedung pertemuan di Florida itu.

Ketika Obama berjalan menjauhi podium untuk mendekat ke penanya yang letaknya jauh di tribun kiri, seseorang naik panggung dan meletakkan selembar kertas di atas podium. Saya sudah menyangka informasi apa yang diinterupsikan ke podium itu. Tapi, Obama tidak kelihatan terlalu peduli, atau tidak kelihatan terlalu ingin mengetahui informasi apa yang begitu penting.

Setelah kembali ke podium, Obama juga tidak langsung membaca isi kertas itu. Baru beberapa saat kemudian, dia mengambil kertas tersebut dan mengumumkan isinya kepada yang hadir di situ: Senat telah memberikan persetujuannya. Memang, penonton TV sudah tahu bahwa di layar sebelah kiri telah disiarkan bahwa Senat telah selesai berdebat dan menyetujui rencana Obama meski dengan hanya selisih satu suara.

Di masa krisis, terobosan komunikasi seperti itu sangat diperlukan. Dan, Obama memiliki kemampuan dan keterbukaan yang luar biasa. Inilah yang juga saya harapkan di masa kepresidenan Indonesia lima tahun ke depan. Tidak perlu seorang presiden mendapat dukungan mayoritas di DPR. Jangan takut dijegal oleh DPR. Sepanjang dia memang dipilih oleh rakyat dan kemenangannya cukup signifikan, mengapa harus takut pada DPR.

Kalau saja sampai terjadi DPR menghambat program presiden, cara-cara seperti yang dilakukan Obama bisa ditiru. Rakyat akan ikut menentukan mana yang lebih memenuhi harapan rakyat: Presiden atau wakil rakyat. Dengan demikian, akan terjadi juga proses pendewasaan DPR. Termasuk dalam proses ini adalah dikuranginya peran fraksi, sehingga anggota DPR sedikit lebih terbebas dari belenggu fraksi.

Lain dengan yang dilakukan Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao. Semestinya Wen memerintah dengan tangan besi. Apalagi, di zaman krisis seperti ini. Toh, Wen terus berdialog langsung dengan rakyat. Dia sangat rajin turun ke daerah-daerah yang paling menderita. Bahkan, dua hari lalu dia chatting dengan pengguna internet. Sebuah dialog langsung yang mestinya hanya bisa dilakukan oleh negara liberal.

Di Tiongkok pengguna internet memang luar biasa besarnya: 300 juta. Penguasa tahu kekuatan komunikasi yang terkandung di dalamnya. Maka sangat tepat kalau Wen memanfaatkannya. Kenapa Wen melakukan itu?

Dalam masa krisis, peran pemimpin memang sangat menentukan. Kalau dia terus bicara mengenai kesulitan-kesulitan krisis yang harus dihadapi, bisa-bisa rakyatnya akan takut, lemas, dan kehilangan semangat. Yang lebih membahayakan lagi kalau rakyatnya kehilangan sikap optimistis dan kehilangan kepercayaan diri.

Sebaliknya, kalau pemimpin terus menutupi kesulitan itu dan hanya memompa semangat melalui pidato, bisa-bisa rakyat terjerumus. Maka di masa seperti ini pemimpin memang harus pandai-pandai membuat keseimbangan antara menunjukkan realitas yang sulit dan memberikan optimisme melalui langkah konkret.

"Terus terang, baru sekali ini saya chatting di internet. Sesuatu yang pertama selalu saja membuat grogi," ujar Wen dengan nada gurau, tapi sangat mengena di hati rakyat biasa. "Baik sekali menggunakan cara ini untuk tukar pikiran secara langsung dengan rakyat," tambahnya.

"Rakyat telah memberi saya kekuasaan. Saya tidak tahu bagaimana membalasnya yang terbaik. Karena itu, saya habis-habisan melayani rakyat," katanya menjawab pertanyaan para netter. Ada 30 pertanyaan yang sempat dikomentari oleh Wen Jiabao di situ. Mulai yang berat-berat sampai yang ringan-ringan dan yang sangat pribadi. Misalnya: Berapa hari dalam setahun berada di rumah? Berapa gaji? Kalau almarhum Perdana Menteri Zhu Enlai terkenal sebagai peminum, berapa banyak Anda mampu minum (alkohol)? Dalam waktu senggang apakah Anda chatting di internet atau main playgame? Berapa jam tidur sehari? Sampai ke pertanyaan serius: apakah Anda merasa harga rumah di perkotaan masih terlalu tinggi?

Jawaban-jawaban Wen, terus bermain di antara menceritakan realitas yang sulit-sulit dan harapan-harapan yang optimistis. Misalnya, kata-katanya yang lucu "sukses tidaknya mendorong orang untuk belanja itu bukan bagaimana pemerintah mengimbau orang agar belanja, tapi yang lebih penting adalah ada atau tidak ada uang di saku mereka."

Karena itu, pemerintah menganggarkan dana sampai 500 miliar dolar dalam empat tahun ini. Hasilnya pun sudah bisa dia ceritakan. "Sepuluh hari pertama Februari, penggunaan listrik sudah naik 13,2 persen," katanya. Dan, kalau dilihat sepuluh hari kedua, kenaikannya sudah 15 persen. Tingkat konsumsi juga sudah mulai naik. "Semua data ini akan terus kita ikuti dengan cermat. Kalau memang masih diperlukan, pemerintah akan menggenjot lagi," katanya.

Jawaban lain bentuknya imbauan. Misalnya, para pengusaha dan bankir harus punya jiwa sosial. Demikian juga para dokter harus memberikan pelayanan terbaik kepada orang yang lagi susah. "Kalau para dokter mengeluh, berikan keluhan itu kepada kami. Jangan sampai keluhan itu dilampiaskan dalam bentuk pelayanan yang kurang baik kepada pasien," katanya.

Wen ingin sekali membangun rasa percaya diri yang kuat bahwa Tiongkok mampu mengatasi krisis ini. "Percaya diri lebih berharga daripada emas atau uang," katanya. Membangun percaya diri juga bagian penting dari mengatasi krisis.

 

[sumber : http://www.jawapos.com]

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com