Kompilasi Tulisan Dahlan Iskan

April 3, 2009

Mencoba Hotel ‘’Kempinsky'’ Indonesia yang Baru (3-Habis)

Filed under: Uncategorized

Bernostalgia dengan Foto-Foto Hitam Putih Bung Karno

Usai mandi, saya ingin turun ke lobi. Teman saya sudah menunggu di lobi Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini. Begitu keluar kamar, saya kembali terpikir bagaimana bisa membuat koridor ini lebih nyaman. Saya pun menyusuri koridor itu dengan perhatian penuh ke jendela-jendela tipuan yang terbuat dari kaca itu.

Catatan Dahlan Iskan

—–

SAMPAI tiba di lift terdekat, tetap saja tidak keluar ide bagaimana membuat koridor itu terasa lebih lapang.

Saya langsung masuk ke salah satu dari dua lift yang berjajar di situ. Lalu saya pencet tombol "L" yang dugaan saya pasti singkatan dari lobby. Eh, ternyata bukan. Tiba di lantai itu saya tidak mendapatkan lobby. Saya naik kembali ke lantai enam.

Keluar dari lift saya perhatikan tanda-tanda, jangan-jangan saya salah memilih lift. Logika saya mestinya tidak salah. Semua orang, menurut akal sehat, tentu akan selalu mencari lift terdekat. Maka itulah lift terdekat. Jadi, akal saya sebenarnya masih sehat. Apalagi, tidak ada petunjuk sama sekali bahwa penghuni tidak boleh menggunakan lift terdekat itu.

Saya pun mencari-cari lift yang lain. Oh, di sebelahnya ada dua lift lagi yang juga berjajar. Saya pun masuk. Kali ini saya merasa pasti inilah lift yang benar. Ternyata saya salah lagi. Lift ini lift barang yang juga tidak bisa dipakai ke lobi. Sekali lagi saya tidak melihat tanda apa pun bahwa lift itu lift barang, kecuali dinding-dindingnya yang tahan benturan. Apalagi, saya juga baru melihat banyak orang keluar dari lift itu. Logika saya: ini bukan lift barang.

Saya pun naik lagi ke lantai 6. Barulah saya benar di langkah ketiga. Saya gunakan lift yang benar-benar benar. Di lokasi itu ternyata ada enam lift, berjajar dua-dua. Tidak ada petunjuk apa pun mana lift yang ke mana. Setelah bertanya, barulah saya tahu, jajaran lift terdekat tadi adalah lift untuk apartemen. Jajaran lift yang tengah untuk barang. Sedangkan jajaran yang satunya lagi barulah untuk penghuni hotel.

Besok paginya, ketika akan makan pagi, saya tidak salah lagi. Saya sudah bisa memilih lift dengan benar. Bukan karena sudah ada petunjuknya, melainkan karena saya selalu mengingat-ingatnya sejak sebelum tidur. Besok pagi saya tidak boleh salah lagi dalam memilih lift yang mana. Sampai-sampai terbawa ke mimpi. Saya ingat ketika menjadi anggota MPR dulu, pernah diinapkan di Hotel Indonesia. Rasanya waktu itu memang banyak sekali lift di situ. Rupanya lift-lift tersebut masih sama tempatnya, hanya kali ini dibeda-bedakan penggunaannya.

Pagi itu sebenarnya saya mengharapkan bisa makan pagi agak banyak. Maklum, harganya juga Rp 350.000 per orang. Tapi, makanan yang ada sangat standar -untuk ukuran hotel dengan tarif Rp 2,5 juta semalam. Jadi, tidak banyak pilihan. Tidak apa-apa. Toh saya harus segera ke bandara menuju ke Balikpapan. Baik makanan maupun tata ruang coffee shop itu sangat biasa. Kecuali ada beberapa kursi yang ditata di luar ruang sehingga ada pilihan bagi orang yang mau udara bebas atau barangkali mau merokok. Tapi, karena kolam airnya belum selesai, kursi-kursi itu hanya menghadap plester-plester semen di sana-sini.

Oh, ada yang mengesankan. Ada tiga foto besar hitam putih yang menghiasi dinding coffee shop itu. Foto-foto itu pun bisa menimbulkan nostalgia yang jauh. Paling kiri ada foto Bung Karno dengan kegagahan uniform kepresidenannya dan tongkat komandonya. Bung Karno dalam foto itu lagi dalam posisi seperti berbisik kepada gadis cantik berambut pirang. Ya, semua orang tahu: dialah Marilyn Monroe. Bintang film simbol seks yang mati bunuh diri justru ketika masih seksi-seksinya.

Melihat foto itu kesan yang muncul adalah: siapa yang sebenarnya jago seks? Yang berbisik atau yang lagi mendengarkan?

Di bagian tengah barulah foto yang menimbulkan kesan bertemunya dua jagoan dunia: Bung Karno dan Kennedy. Sayangnya, Kennedy mati tertembak tidak lama setelah itu dan presiden AS berikutnya tidak mau meneruskan komitmen Kennedy kepada Indonesia. Jadilah Bung Karno "patah hati" dan berpaling ke Uni Soviet dan memusuhi Amerika. Lalu Amerika memusuhi Bung Karno dan kelak pada 1965 ikut menggulingkannya.

Foto yang paling kanan adalah Bung Karno dengan para penari cilik dari Bali. Tiga-tiganya menimbulkan kesan sendiri-sendiri yang sangat jauh.

Saya sempat berfoto di dekat situ. Itulah, bagi saya, bagian yang paling mengesankan dari hotel baru yang asal usulnya dibangun dengan harta pampasan perang dari Jepang itu.(*)

April 1, 2009

Dahlan Iskan : Mencoba Hotel â? Kempinskiâ?Indonesia yang Baru (2)

Filed under: Uncategorized

Kamar Bersih dan Nyaman, Sayang Sulit Buang Kulit Pisang

Begitu masuk kamar, bau cat masih terasa. Tidak apa-apa. Memang Hotel Kempinski Indonesia ini (d/h Hotel Indonesia) masih belum genap satu bulan. Semuanya masih serba baru.

—–

BEGITU membuka pintu saya langsung terpana oleh lantainya yang kinclong. Seirama dengan hal-hal yang serba kaca di luarnya. Lantai kamar yang terbuat dari kayu itu juga sangat menyenangkan. Di samping nyaman, kesannya juga sangat bersih. Apalagi di sekitar ranjang dilapisi karpet. Saya suka lantai kamar seperti ini. TV-setnya juga sangat besar. Meja dan kursi kerjanya juga simple dan enak. Patung-patung kecil putih yang menjadi hiasan di kamar itu juga cocok sekali.

Tapi adanya dua lampu di samping tempat tidur itu terasa berlebihan. Di sisi kiri ada lampu duduk yang besar sekali, tapi masih juga ada lampu baca yang tangkai besinya terasa amat panjang. Di sisi kanan juga sama. Jadi, ada empat lampu di sisi ranjang. Apalagi lampu duduknya besar sekali. Begitu besarnya lampu duduk itu sampai menutup hiasan grafis (gambar beca susun dua) yang ditempelkan di dinding. Menurut saya lampu baca saja sebenarnya sudah cukup. Meja kecil di samping ranjang itu bisa digunakan untuk menaruh koran, majalah, kacamata atau barang-barang pribadi lainnya yang biasanya harus dilepas sebelum tidur.

Ranjang dan bantalnya sudah cukup enak, meski belum sangat enak seperti yang pernah saya alami di hotel lain dengan tarif yang sama. Sandalnya bagus, alat cukurnya dipilih dari merk yang baik yang cukup tajam (banyak hotel yang alat cukurnya tumpul!), dan jarak antara ranjang dan TV-nya juga ideal.

Penataan kamarnya juga enak, kecuali lampu duduk di sebelah ranjang tadi. Tapi saya kesulitan membuang kulit pisang. Ternyata tidak ada tempat sampah di kamar itu. Padahal ke mana-mana saya selalu membawa pisang kepok, sebagai salah satu pengendali mekanisme pencernaan saya setelah ganti hati hampir dua tahun lalu.

Saya lantas mencoba membuka gordin untuk melihat pemandangan apa yang ada di luar sana. Ternyata sama sekali tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya dinding-dinding dan lantai bangunan lain di komplek itu. Bahkan sebagian lantai yang terlihat dari kamar itu masih belum bersih. Masih berupa semen polos. Mungkin karena bagian ini memang belum disentuh. Maklum masih baru ujicoba.

Kelak saya kira pemandangan di situ akan dibenahi dengan tipuan-tipuan yang bisa menyenangkan. Sebelum itu dilakukan, apa yang terlihat dari kamar justru pemandangan yang "kejam". Maka saya tutup kembali gordin itu dan tidak pernah saya buka lagi sampai saya check out keesokan harinya.

Bagaimana dengan kamar mandinya? Posisi pintu kamar mandi itu cukup enak. Model wastafelnya yang segi panjang itu tidak ada masalah. Cocok saja dengan desain sekelilingnya. Bahwa warna dominan kamar ini (termasuk kamar mandi) adalah coklat, juga tidak masalah.

Toiletnya dipilih toilet paling modern yang pakai elektronik kontrol itu. Tutupnya membuka sendiri, dudukannya selalu hangat dan untuk cuci buang air besar cukup memencet-mencet tombol. Tapi gerakan membukanya kurang cepat. Sehingga bagi yang kebelet sekali, atau yang sakit perut, bisa kececeran. Memang penutupnya bisa dibuka dengan tangan sehingga sebenarnya -kalau kesusu–juga tidak ada masalah. Mungkin karena posisi toilet itu yang menyamping (orang yang akan menggunakannya datang dari arah samping toilet) sehingga sensornya harus menunggu dulu sampai orangnya tiba di arah depannya. Lain kali, kalau posisi toiletnya seperti itu baiknya menggunakan sensor yang bisa "melirik" ke kiri. Dengan demikian, ketika orangnya sudah tiba di sisi kiri toilet, sensornya sudah bisa membaca: lalu tutup toilet itu bisa cepat membuka.

Bak mandi kamar ini sangat besar dan menonjol. Bentuknya oval cembung yang ukurannya benar-benar besar. Saking besarnya sampai-sampai menghalangi pintu masuk ke kamar mandi shower. Akibatnya pintu ke shower ini hanya bisa dibuka separonya saja. Membukanya pun harus hati-hati agar pintunya tidak membentur bak mandi. Di sini terasa seperti ada anjuran lebih baik mandi pakai bak saja. Karena, kalau ke shower agak sulit masuknya. Padahal pemakaian air untuk bak mestinya jauh lebih boros daripada untuk shower. Tapi, mungkin orang memang lebih senang berendam. Tidak seperti saya yang serba kesusu dan karena itu lebih memilih pakai shower.

Meski masuk ke kamar shower di Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini agak sulit, namun ruangan shower itu sendiri cukup longgar. Di dalam kamar shower ini tidak ada masalah. Bahkan showernya ada dua: yang di langit-langit dan yang di dinding. Airnya juga menyemprot dengan kuat.

Shower besar yang di langit-langit itu juga enak. Bentuknya yang besar membuat air rata menyemprot ke seluruh kepala. Menurut penelitian shower seperti ini kabarnya bisa membuat orang yang mandi di situ bisa menggunakan air lebih sedikit.

Anehnya, kamar mandi shower ini tidak dilengkapi tempat sabun. Juga tidak ada sabun cair yang menempel di dinding. Saya agak kaget ketika sudah berada di dalam. Padahal saya sudah terlanjur telanjang. Ketika masuk ke kamar shower ini saya memang sudah melepas baju dengan logika pasti sudah ada sabun atau gel di dalamnya.

Saya hanya membawa sikat gigi yang sudah ada pastanya. Saya memang biasa sikat gigi di kamar mandi, bukan di wastafel. Boleh kan? Setelah saya sikat gigi, saya kebingungan: di mana mau menaruh sikat gigi? Biasanya saya taruh di tempat sabun. Ini tidak ada tempat sama sekali. OK. Sikat gigi saya lempar begitu saja di pojok lantai. Toh sudah tidak akan digunakan lagi. Sehabis mandi baru akan saya buang di tempat sampah.

Lalu saya pun membasahi badan dan rambut. Setelah itu otomatis saya cari-cari di manakah sabunnya? Ternyata tidak ada. Dinding di kamar mandi itu bersih dalam pengertian tidak ada apa-apanya sama sekali. Walhasil saya harus lari ke luar kamar mandi untuk mengambil sabun di wastafel. Kembali ada persoalan. Setelah sabun itu digunakan akan ditaruh di mana? Sekali lagi saya lempar saja di pojok lantainya.

Lantai kamar mandi ini juga agak aneh. Di sekelilingnya ada parit kecil. Lalu di pojoknya ada lubang pembuangan yang tutupnya lepas. Tutup lubang itu juga terbuat dari keramik segi empat. Tidak apa-apa. Yang membuat saya tidak habis pikir mengapa digeletakkan begitu saja. Sekali lagi, barangkali ini memang masih uji coba.

Saya menduga, lantai kamar mandi itu dipasang kurang kurang sempurna sehingga airnya kurang plas menghilang ke lubang. Maka dibikinkanlah parit kecil di sekelilingnya. Semoga dugaan saya itu salah. Tapi apa dong? Bukankah parit keliling itu bisa membuat kesan kebersihan kamar mandi itu terganggu? Tentu semua itu soal kecil. Yang penting tidak ada air menggenang selama kita showeran di situ.

Saya juga selalu menilai handuk di setiap hotel. Enak atau tidak di badan. Di Hotel Kempinski Indonesia ini handuknya cukup enak di badan -meski juga belum seenak di hotel yang sering jadi langganan saya yang harganya setaraf dengan itu. Timbangan badan di kamar itu (juga dari kaca) berfungsi dengan baik. Kaca pembesar di kamar mandi itu juga baik.

Tapi tempat sampah di kamar mandi itu menganggu kenyamanan. Tempat sampah itu tertutup dan letaknya dua langkah dari wastafel. Untuk membuang sampah ke situ kita harus menginjakkan kaki ke ontelan di bagian bawahnya agar tutup tempat sampah itu membuka. Ini menyulitkan bagi orang yang biasa sekali waktu mengerjakan dua pekerjaan. Misalnya saja orang yang setelah bersikat gigi ingin membuang sikat giginya ke tempat sampah sambil mulutnya masih penuh dengan pasta. Masak orang harus melangkah ke tempat sampah itu untuk menginjakkan kaki sambil mulutnya penuh dengan busa pasta. Kalau tempat sampah itu tidak bertutup, orang tinggal melemparkannya saja tanpa harus bergeser dari wastafel.

Dasar penghuni hotel yang pemalas! (bersambung).

Dahlan Iskan: Mencoba Hotel ‘’Kempinski'’ Indonesia yang Baru (1)

Filed under: Uncategorized

SAYA suka mencoba hotel baru. Termasuk ketika Hotel Indonesia dibuka kembali dengan nama baru: Kempinski Indonesia. Namanya saja mencoba, saya siap dengan dua kemungkinan: kekurangan dan kelebihan.

Saya tidak akan komplain kalau saja menemukan kekurangan. Saya sendiri yang sudah mendirikan begitu banyak surat kabar (100 lebih?), juga selalu mengecewakan pembaca setiap kali surat kabar baru itu mulai terbit. Lama-lama kekurangan itu dikoreksi dan akhirnya menjadi baik. Demikian juga ketika kami membuka usaha gedung perkantoran, pabrik kertas, dan PLTU. Di awal-awalnya selalu saja banyak kekurangan.

Kemungkinan kedua, saya akan langsung mengaguminya. Siapa tahu kehebatan hotel ini sama dengan mall Grand Indonesia yang lebih dulu dibuka. Toh hotel ini bukan saja menjadi bagian dari kompleks Grand Indonesia yang megah itu, pemiliknya pun sama: kelompok Djarum. Apalagi ada nama Kempinski di situ. Inilah jaringan hotel dari Jepang yang sudah sangat terkenal reputasinya. Saya juga sudah sering menginap di berbagai Hotel Kempinski di banyak negara. Saya sudah tahu standar dan reputasinya.

Saya sudah beberapa kali ke mall Grand Indonesia sebelum hotel ini dibuka. Biasanya untuk makan di restoran Jepang atau Korea di lantai 5 itu. Sambil makan saya bercita-cita kalau hotelnya sudah dibuka saya akan langsung merasakannya. Ternyata saya terlambat tahu. Hotel itu sudah dibuka pada 1 Maret lalu, tapi saya baru punya kesempatan mencobanya 24 hari kemudian.

Lalu apa yang saya alami ketika menginap di Hotel Indonesia yang baru ini?

Saya memperoleh dua-duanya. Kekurangannya dan kelebihannya.

Meski tempatnya di kompleks Grand Indonesia, hotel ini ternyata tergolong "hotel bisnis". Hanya, hotel bisnis yang mewah. Karena hotel bisnis, jangan mengharapkan lobi yang wah, atau kamar yang besar, atau coffee shop yang grand. Hotel ini menganut konsep minimalis, tapi minimalisnya sebuah hotel bintang lima. Lobinya penuh dengan pilar yang besar-besar. Untuk mencari di mana resepsionisnya saya harus melongok-longok di antara pilar-pilar itu. Oh, di sana: membelakangi taman dengan sekat kaca penuh yang terang benderang.

Bahan kaca memang mendominasi semua hal. Rupanya inilah memang yang menjadi ciri khas baru Hotel Indonesia. Ini juga yang membuat citranya sebagai hotel bisnis sangat menonjol. Pilar-pilarnya, kolom-kolomnya, dinding-dindingnya serba berkaca.

Kelihatannya bahan kaca ini sekaligus untuk mengatasi persoalan "ruang" yang menjadi penghambat utama desainernya. Sebagai hotel lama yang direnovasi, tentu Hotel Indonesia tidak bisa menghindari "warisan" lama itu. Misalnya, pilar-pilar, kolom-kolom dan ukuran kamar yang terkait dengan fondasi asal bangunan itu. Semua harus terikat dengan konstruksi lama yang untuk ukuran sekarang tentu tidak akan memuaskan para perancang. Kolom-kolom besar di lobi itu, misalnya, bagaimana bisa membuangnya? Tidak mungkin. Karena itu, mereka mengatasinya dengan membalutnya dengan kaca-kaca.

Demikian juga kolom rendah di dalam kamar. Yakni, kolom di antara ranjang dan meja kerja. Kolom itu begitu rendahnya sehingga seperti memotong kamar menjadi dua bagian. Tapi, desainer berhasil mengurangi kesan itu dengan cara membungkus kolom tersebut dengan kaca cermin. Dengan demikian kamar itu kesannya masih cukup luas.

Hari itu saya mendapat kamar di lantai 6, agak di ujung lorong. Dan, memang kelihatannya baru dua lantai (lantai 5 dan 6) yang diuji coba. Begitu keluar dari lift di lantai 6, saya belok kiri menuju lorong untuk ke kamar. Di koridor inilah saya baru merasakan ketidakcocokan antara harga dengan kenyamanan yang disajikan. Kamar ini harus saya bayar dengan tarif Rp 2,5 juta/malam. Itu pun sudah harga travel. Kalau go show, pasti lebih mahal lagi.

Untuk tarif segitu tinggi, koridor ini kurang memberikan kesan mahal. Memang saya sendiri agak sulit kalau harus ikut memikirkan bagaimana sebaiknya koridor itu didesain. Sebab, sisi kiri koridor tersebut adalah dinding. Dinding mall, rupanya. Desainer lantas menutupi kelemahan itu dengan membuat jendela-jendela tipuan di sepanjang koridor. Yakni, jendela-jendela kaca. Meski begitu, tetap saja muncul kesan bahwa di balik kaca itu adalah dinding. Apalagi koridor ini terasa sangat sempit untuk ukuran kamar seharga Rp 2,5 juta. Kelihatannya koridor ini memerlukan sentuhan desainer sekali lagi. (bersambung)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Jay of onefinejay.com